Surabaya,(bisnissurbaya.com) – Anak kerdil (Stunting) mendapat perhatian khusus. Salah satunya dari Wali Kota Tri Rismaharini.

Upayanya melalui penyelenggaraan kegiatan komitmen bersama percepatan pencegahan anak kerdil di Balai Pemuda, Rabu (18/12). Bersama instansi dan organisasi lainnya, diantaranya Kementerian Agama, Persi Jatim dan Surabaya, BPOM, IDI, Ikatan Bidan Indonesia, Persagi, dan Forum Kota Sehat TPPKK Kota Surabaya

Mereka melakukan komitmen bersama untuk percepatan pencegahan anak kerdil (Stunting). Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, minta pencegahan stunting ini penting dilakukan karena mempengaruhi kecerdasan anak.

“Biasanya, kalau gizinya kurang, kecerdasannya juga kurang. Bagaimana mungkin kita bisa bersaing kalau kecerdasan kurang,” ujar Wali Kota Risma.

Dampak anak stunting, menurut Risma, tak hanya mempengaruhi kecerdasan anak, kepercayaan dirinya juga kurang. Untuk itu, ia minta semua organisasi pemerintah daerah, kader dan masyarakat harus bergerak bersama. “Kalau ada warganya yang hamil dipantau, dan saya harap puskesmas jemput bola, untuk mengawasi agar rutin periksa,” terangnya.

Ia mengingatkan kepala kelurahan agar memperhatikan permakanan, terutama untuk warga kurang mampu. Bagi ibu hamil, ia minta untuk mendapatkan permakanan tambahan dari puskesmas. “Sebetulnya (pemberian makanan) kita sudah lakukan untuk Ibu hamil dan warga miskin,” imbuh Risma.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rahmanita, mengungkapkan, jumlah anak di Kota Surabaya dalam kondisi stunting 2019 sekitar 15.000. Jumlah tersebut menurun, dibanding 2018 yang mencapai 16.000 anak. “Penyebabnya kekurangan gizi kronis, kemudian disertai penyakit lainnya. Pada saat masih bayi, bila ukuran kurang dari 47 centimeter, kita harus curiga, dan segera didampaingi agar tidak menjadi stunting,” jelas Fenny, panggilan akrapnya.

Ia menjelaskan, untuk mencegah anak stunting dimulai dimasa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pasalnya, masa tersebut merupakan  masa kritis, dimana anak balita membutuhkan gizi dan perilaku hidup sehat lingkungan sekitar. Namun, sebelumnya bagi calon pengantin mendapatkan pendampingan dari puskesmas, hinggga mendapatkan sertifikat layak nikah. “Tetapi terkadang untuk mendampingi ibu hamil, kadang dari suami menolak. Namun, kita terus berusaha,” beber Fenny.

Sejak 2016, sekitar 60 persen ibu hamil mendapatkan pendampingan. Anak-anak yang lolos pendampingan mendapatkan sertifikasi lolos 1.000 HPK. Bagi anak balita yang diindikasi stunting, Pemerintah Kota/Pemkot berupaya menggenjot pemberian vitamin. Seperti minyak ikan untuk menunjang gizinya. (ton)