Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Iklim ekonomi Indonesia pada 2020 diprediksi Badan Pusat Statistik/BPS akan melambat. Kondisi keburaman itu berbagai faktor penyebabnya. Diantaranya, perang dagang, ekonomi global, dan sektor pertambangan seperti batubara merosot hingga 45 persen.

Pakar politik dari Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya, Agus Sukriyanto, mengatakan, asumsi rakyat akan lebih percaya pada data BPS. Sebab, BPS merupakan badan resmi pusat data di Indonesia dan tidak memiliki pretensi apapun dalam menyampaikan data faktual.

“Mungkin asumsi masyarakat masih percaya pada BPS. Karena merupakan lembaga resmi yang objektif dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Sementara, dibandingkan optimisme Menteri Keuangan Sri Mulyani, bahwa ekonomi bakal melesat, menurutnya, elemen pemerintah atau institusi politik ini memiliki tendensi sendiri terhadap politisi untuk menutupi pertumbuhan ekonomi yang diprediksi masih melambat itu.

“Politik itu terkadang bisa membolak-balikkan keadaan. Bisa yang benar jadi salah, begitu juga sebaliknya,” imbuh guru besar universitas Untag ini.

Sementara, menurut ekonom muda dari Universitas Indonesia (UI) Fitra Faishal, menilai data faktual yang dirilis BPS merupakan tantangan bagi pemerintah. Tantangan itu tentu lebih berat dari tahun 2019. Sebab, dari sisi eksternal semakin tidak mendukung adanya perbaikan.

“Saat ini masih sangat dipenuhi ketidakpastian untuk membaca arah kebijakan Donald Trump juga belum diketaui arah kebijakan ekonominya,” tandas Fitra ini.

Dirinya memproyeksikan hal yang sama dengan BPS, yaitu pada 2020 ekonomi Indonesia akan mengalami pelambatan dan anjlok dari angka 5 persen yang digembar-gemborkan Menteri Keuangan Sri Mulyani belum lama ini.

Disinggung mengenai pernyataan resmi Menkeu Sri Mulyani yang kerap menyebut Indonesia akan stabil di 2020, menurut Fitra sebatas sikap menjaga optimisme dari pemerintah. Karena, pemerintah memang bertugas menggiring optimisme di tengah masyarakat.

“Kita tidak bisa menyalahkan juga pemerintah, kalau pemerintah pesimis gimana nanti, justru ini tantangannya,” pungkas Fitra.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memprediksi ekonomi Indonesia bakal suram di 2020. Salah satu pemicunya yakni, adanya perang dagang, ekonomi global, dan sektor pertambangan seperti batubara merosot hingga 45 persen.

Penyebab lain, bukan hanya resesi dunia yang berdampak pada kondisi ekonomi dalam negeri. Namun,juga karena daya beli masyarakat semakin melemah, kebutuhan meningkat, tapi pendapatan menurun. (ton)