Surabaya, (bisnissurabaya.com)  – Jangan coba-coba mempermainkan persyaratan nikah. Sebab, hakim tidak akan memberi ampun. Seperti kasus ‘nikah palsu’ Hendry Jocosity Gunawan dan Iuneke Anggraini, pasangan suami istri (pasutri) oleh Jaksa Penuntut Umum/JPU Kejari Surabaya Ali Prakosa, dituntut 3,5 tahun penjara. Sedangkan istrinya, Iuneke Anggraini, 2 tahun penjara, setelah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 266 ayat (1) KUHP jo) pasal 55 ayat (1) KUHP.

Jaksa Ali Prakosa, dalam amar tuntutannya yang dibacakan di Pengadilan Negeri/PN Surabaya Kamis (12/12), menyatakan, perbuatan Henry dan Iuneke telah memenuhi unsur menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam akta otentik mengenai suatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan akta itu. Dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seloah-olah keterangan itu sesuai dengan kebenarannya.
Karena itu, jaksa Ali Prakosa, menuntut dengan pidana 3,5 tahun kepada Henry J Gunawan, dan 2 tahun kepada Iuneke Anggraini. Kemudian, sikap berbelit-belit, kedua terdakwa dan tidak mengakui perbuatannya menjadi pertimbangan yang memberatkan dalam tuntutan jaksa.

Yang meringankan, terdakwa 1 Henry Jocosity Gunawan tulang punggung keluarga dan terdakwa dua, Iuneke Anggraini, belum pernah dihukum. Atas tuntutan tersebut, kedua terdakwa melalui tim penasehat hukumnya mengaku akan mengajukan pembelaan atau pledoi.
“Kita sepakati hari Selasa (17/12) pembacaan pembelaan dan pada hari Kamis (19/12) sidang vonis. Saya tidak bisa tunda-tunda lagi, sebab saya sudah ditegur,” kata Dwi Purwadi, Ketua Majelis Hakim. Seperti diketahui, perkara keterangan pernikahan palsu ini dimulai pada Juli 2010 ketika Henry J Gunawan dan Iuneke Anggraini mengaku sebagai pasangan suami istri (Pasutri) saat membuat 2 akta perjanjian pengakuan hutang dan personal guarantee.

Namun, faktanya, mereka baru resmi menikah secara agama Budha di Vihara Buddhayana Surabaya pada 8 November 2011 yang dinikahkan oleh pendeta Shakaya Putra Soemarno Sapoetra serta baru dicatat di Dispenduk Capil pada 9 November 2011.

Sebelum kasus ini, Henry J Gunawan, juga pernah tersandung beberapa perkara. Yakni, pada 16 April 2018, Henry divonis percobaan oleh hakim PN Surabaya atas kasus tipu gelap jual beli tanah di Celaket, Malang yang dilaporkan oleh Notaris Caroline C Kalempung. Namun, vonis percobaan itu dianulir oleh hakim kasasi di Mahkamah Agung (MA) dengan menjatuhkan putusan 1 tahun penjara.

Pada 4 Oktober 2018, Henry kembali dihukum bersalah atas kasus penipuan terhadap pedagang Pasar Turi terkait proses jual beli stand. Dalam kasus ini, Henry divonis 2,5 tahun penjara oleh hakim PN Surabaya. Tak lama kemudian, pada 19 Desember 2018, PN Surabaya menjatuhkan hukuman 2 tahun dan 6 bulan penjara terhadap Henry karena terbukti melakukan penipuan terhadap tiga rekan bisnisnya yang merupakan kongsi pembangunan dan pengelolaan Pasar Turi. (ton)