Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Mewaspadai peningkatan harga komoditas pangan dengan peningkatan ekspektasi dan permintaan masyarakat. Sehingga, perlunya menjaga keterjangakauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan ekspektasi inflasi maysarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Tim Pengendalian Inflasi Daerah /TPID Jatim berhasil mengawal inflasi mencatatkan capaian inflasi Indek Harga Komulatif (IHK) November 2019 sebesar 2,20 persen atau 1,59 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,95 persen atau 2,24 persen, serta lebih rendah dibanding nasional dan menjadi yang terendah di kawasan Jawa.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia/BI Jatim, Difi A Johansyah, mengatakan, pentingnya menanamkan ekspektasi inflasi yang rendah ke depan. Sehingga dapat dijadikan acuan pengusaha dan masyarakat. “Jatim sudah memiliki modal tersebut. Dengan inflasi yang rendah dan stabil, maka kerja pemerintah dapat lebih fokus “pindah gigi” pada peningkatan pertumbuhan ekonomi,” kata Difi.

Potensi risiko inflasi ke depan, pada HBKN Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, secara historis umumnya berada pada kelompok volatile food, yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, beras, serta komoditas bumbu-bumbuan (bawang merah, bawang putih dan cabe merah). Selain itu kenaikan cukai rokok oleh Pemerintah mulai Januari 2020 akan mendorong kenaikan inflasi administered price. Sehingga pada Desember 2019, inflasi diperkirakan berada pada batas bawah sasaran inflasi 3,5+1 persen, yakni di kisaran 2,5 – 2,9 persen . “Jika realisasi inflasi akhir tahun mencapai angka tersebut, maka Jawa Timur akan mencatat prestasi dalam sejarah yaitu di bawah 3 persen” jelas Difi.

Berbagai upaya pengendalian inflasi melalui TPID Jatim, menurut Difi, berbasis strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Komunikasi Efektif) telah dilakukan selama tahun 2019 ini. Namun terdapat beberapa pelajaran penting dalam dinamika inflasi sepanjang 2019, antara lain fakta bahwa inflasi volatile food masih menjadi tantangan di tahun ini.

Beberapa komoditas yang masih mengalami inflasi yang lebih tinggi dibandingkan 2018 yakni komoditas holtikultura seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah dan bawang putih. Namun di sisi lain, dampak seasonal terhadap inflasi volatile food semakin mengecil. Hal ini mengindikasikan pola tanam, distribusi dan mekanisme pembentukan harga yang semakin baik. Sementara itu, inflasi administered priced yang masih tinggi mempengaruhi tingginya inflasi IHK di 8 kabupaten/ Kota di Jatim.

“Oleh karena itu, penetapan kebijakan kenaikan tarif oleh Pemerintah baik Pusat dan Daerah perlu dipertimbangkan secara berhati-hati dengan besaran kenaikan yang terukur,” tandas Difi.

Rendahnya prakiraan inflasi Jawa Timur 2019, tidak bermakna buruk karena masih nampak adanya pengaruh positif terhadap daya beli riil masyarakat. Faktor utama yang berperan mendorong perbedaan harga tersebut antara lain transportasi, infrastruktur dan pergudangan. “Oleh sebab itu, disparitas harga yang terjadi dapat diminimalkan diantaranya melalui penguatan supply chain management atau manajemen rantai pasok komoditas bahan pokok dan integrasi logistik,” pungkas Difi. (ton)