Odol Dilarang : Mengapa Cuma di Jalan Tol?

45

Surabaya (bisnissurabaya.com)- ARTI ODOL ialah “Overdimension and Overload”. Yakni diterapkan bagi alat transportasi barang yang “melampaui batas dimensi dan muatannya”. Di negara kita, alat transportasi tersebut terbanyak adalah truk-truk dan trailer dalam segala ukuran, yang sering berkelebihan muatannya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, menyatakan peringatannya, bahwa truk-truk yang melampaui batas ODOLnya untuk tidak melewati jalan tol. Apalagi kini mendekati libur Natal dan Tahun Baru/Nataru 2020 yang diperkirakan terjadi lonjakan arus kendaraan. “Kita terus intensifkan untuk terus mengawasi keberadaan truk ODOL agar jangan melintas di jalan tol. Kita juga sudah minta pihak Kepolisian untuk melakukan penegakan hukum jika ada yang melanggar,” kata Menhub Budi Karya Sumadi, di Jakarta (8/12).

Kementerian Perhubungan katanya akan segera menerbitkan larangan kendaraan ODOL  lewat jalan tol mulai tahun 2020. Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setyadi, dalam siaran persnya menyatakan, kementeriannya akan segera berkomunikasi dengan pihak yang terkait untuk berkordinasi, seperti dengan Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Korlantas Polri. Malah bakal dikembangkan larangan ODOL itu untuk melalui penyeberangan Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk. Karenanya dia mengimbau para pemilik kendaraan atau pengangkut barang agar segera menyesuaikan dengan ketentuan tersebut. Guna mengetatkan peraturan tersebut, menurut Budi Setyadi, kementeriannya minta Balai Pengeloa Transportasi Darat (BPTD) bertugas memerika fisik kendaraan, rancang bangun dan memperketat pengawasan.

Mengapa baru sekarang masalah ODOL hanya khusus dilarang lewat jalan tol? Selama ada lalu lintas kendaraan bermotor dan sebelum ada jalan tol pun, serta sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda, sampaipun kalua tak salah tercantum dalam UU Lalu Lintas kita, muatan ODOL selalu dilarang lewat di jalanan umum. Diadakannya pos-pos Jembatan-Timbangan untuk kendaraan, antara lain yang utama adalah untuk mendeteksi ODOL. Tujuannya sesaui yang termaktub dalam UU LL itu, adalah demi keselamatan pengguna jalan raya serta jalanan beraspal atau beton agar tidak cepat rusak oleh beban-beban yang berkelebihan. Aturannya, pihak petugas di Jembatan-Timbangan yang terdiri dari para karyawan/ASN Dinas-dinas Perhubungan Darat di masing-masing Provinsi/Kabupaten itu tidak membolehkan kendaraan bersangkutan yang muatannya melebihi tonase yang ukurannya telah ditentukan untuk meneruskan perjalanan kalua tidak membongkar untuk mengurangi beban muatan itu. Serta bisa menjadi urusan Polisi. Tapi di jaman modern kita ini, apa yang termaktub tersebut adalah teorinya. Sebab, sudah menjadi “rahasia umum”, kalau justru di Jembatan-Timbangan itu terjadi transaksi gelap, bahwa setan pun boleh lewat asalkan ada fee alias gratifikasi alias uang sogok. Bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi ada upeti dalam sistem bertingkat-tingkat hingga ke atas. Namun ada juga petugas-petugas yang teguh memegang disiplin dan peraturan yang ada. Meskipun mereka sering juga dipelototi rekan-rekannya yang suka bermain curang maupun beberapa atasannya yang biasanya menerima sumbangan uang-sogokan dari yang bertugas di Jembatan-Timbangan.

Apa pengaruhnya bagi pengguna jalan raya? Tidak jarang berada di belakang atau berpapasan dengan truk-truk/trailer yang bermuatan tersusun tinggi dan ditutup terpal tetapi jalannya miring terseok-seok di jalanan itu. Tetapi ada juga yang setengah ngebut meski mengangkut beban berlebihan. Termasuk pula bila musim tebang tebu, maka muatan tebu itu bisa bertumpuk-tumpuk diatas bak truk-truk dari ladang perkebunan tebu rakyat menuju pabrik-pabrik gula. Tak luput peti-peti kemas (containers) yang berat diangkut truk-truk tua. Entah sudah berapa kali truk-truk ini terguling karena sarat muatan, muatan tidak seimbang atau tahu-tahu as truk patah. Dan entah sudah berapa orang yang pengguna jalan tewas akibat kejatuhan peti kemas. Begitu pula tewas atau luka berat  akibat dari muatan lain-lainnya karena muatan berlebihan, berakibat truk tak kuat menanjak dan macam-macam. Kalau urusannya sudah ditangan Polisi karena menyebabkan kecelakaan berat, tidak pernah dipermasalahkan, bagaimana kok bisa melewati jembatan-timbang telah dilewatinya? Memang rada ajaib, truk-truk bermuatan berlebih-lebih itu sepertinya berjalan aman-aman saja. Kebetulan barangkali tidak ada anggota Polisi Lalu Lintas di daerah yang dilewatinya karena saat itu “sedang tidak bertugas” di jalanan tersebut.

Apabila ada petugas yang mengurusi peraturan lalu lintas di jalan raya yang mempunyai sifat kurang jujur, dampaknya bisa panjang bagi sikap pengguna jalan raya yang menyalahgunakan peraturan yang ada. Termasuk pengaruh psikologisnya. Karena berprinsip peraturan plus larangannya plus pelaksananya “bisa diatur”, menjadilah para pengusaha alat transportasi yang biasa bermain curang, mengatur bawahannya (termasuk sopir truknya) berbuat curang. Terjadilan mata rantai kejahatan.

Bagi anda yang akan menggunakan jalan raya dan jalan tol,– terutama ikut beramai-ramai dalam masa libur Panjang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020,– tetap berhati-hati. Terutama yang lewat jalan raya biasa.

Sebab, tidak disebutkan larangan truk pengangkut ODOL di situ. Kita kurang faham, apakah pihak Kepolisian bakal menindak pelanggar (pelaku ODOL) yang tidak lewat jalan tol? (amak syariffudin)