Surabaya,(bisnissurabaya.com) Guru seharus menjadi suri tauladan bagi murid-muridnya. Tidak malah sebaliknya membuat contoh yang tidak terpuji.

Karena itu, kasus pelecehan terhadap anak didik kembali terjadi. Pelaku Ali Shodiqin, Kepala Sekolah sebuah SMP di Surabaya. Ali yang berprofesi sebagai guru itu harus duduk sebagai pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya atas kasus pencabulan atau pelecehan seksual serta penganiayaan terhadap sejumlah murid didiknya.

Dalam fakta persidangan yang dipimpin hakim R Anton Widyopriyono, surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Novan Afrianto tersebut menyebutkan terdakwa Ali Shodiqin telah melakukan pencabulan dan penganiayaan yang dilakukan pada lima siswanya.

Perkara ini bermula ketika dilakukan pemeriksaan psikologi terhadap 21 anak. Beberapa diantaranya telah menjadi korban pelecahan seksual oleh terdakwa.

Dari lima siswa, satu orang menjadi korban penganiayaan terdakwa. Sedangkan empat lainnya mengalami pelecehan seksual dengan cara terdakwa meremas kemaluan korban. “Korban merasa ketakutan karena ada ancaman dari terdakwa, dengan mengancam akan tidak dinaikkan kelas dan dikeluarkan dari sekolah apabila tidak mau menuruti kemauan terdakwa,” terangnya.

Atas perbuatan tersebut, jaksa mendakwa terdakwa Ali Shodiqin dengan pasal berlapis. Yakni melanggar Pasal 80 Jo Pasal 76 C UU dan Pasal 82 Jo Pasal 76 E Tentang Perlindungan Anak dan melanggar Pasal 28 ayat (1) Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Usai pembacaan dakwaan, terdakwa yang didampingi penasehat hukum dari Diskum Lantamal TNI AL mengaku akan mengajukan eksepsi.

“Kami ajukan ekspepsi,” ujar terdakwa yang disambut ketukan palu hakim Anton sebagai tanda berakhirnya persidangan.

Terpisah, Terdakwa Ali Shodiqin, menyatakan semua dakwaan terhadapnya tidak benar. Ia membantah sangkaan pencabulan tersebut yang dituduhkan kepada Ali.

“Semuanya bohong, peristiwa itu tidak pernah ada. Nanti aja akan dijelaskan di eksepsi,” pungkasnya saat dikonfirmasi usai persidangan.

Aalah satu orang tua korban berharap agar terdakwa diberikan hukuman setimpal. “Untuk memberikan efek jera pada terdakwa. Kalau anak saya menjadi korban penganiayaan, inisialnya  A,” tandasnya saat dikonfirmasi di PN Surabaya.

Saat ditanya apakah masih trauma yang dialami anaknya dan para korban lainnya, ia mengaku para korban telah dilakukan hilling untuk menghindari peristiwa yang sama dari pelaku yang berbeda.

“Saya berharap agar korban-korban yang lainya berani melapor untuk menegakan keadilan,” pungkasnya. (ton)