Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Pantas saja, sering terjadi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi. Ternyata, banyak oknum melakukan penyimpanan/menimbun BBM bersubsidi dari pemerintah untuk kepentingan industri tersebut.

Subdit IV Tipiter Ditreskrimsus Polda Jatim pun akhirnya, membongkar kasus penyalahgunaan BBM jenis solar bersubsidi yang digunakan sebagai kepentingan industri. Mestinya, dinikmati masyarakat yang tepat sasaran.

Dengan modus pembelian solar bersubsidi ini dilakukan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum/SPBU di wilayah Kecamatan Blega, Kebupaten Bangkalan, Madura dengan menggunakan truk untuk mengelabuhi petugas. Kemudian solar bersubsidi itu dijual kebeberapa perusahaan industri di Madura.

Pelaku ‘M’ Kepala Cabang PT Pelita Petrolium Indoasia Cabang Sumenep melakukan pembelian BBM solar dari PT Jagad Energi dengan harga  Rp 6.700/liter non Ppn. Kemudian BBM tersebut disimpan dalam tangki duduk sebanyak tiga buah yang berisi BBM Solar ± 42.000 Liter yang berada di Ds Kebun Dadap Barat Kec. Saronggi Sumenep. Kemudian, BBM solar dijual kembali oleh “ M” ke pegaraman Sumenep. Setiap kali pembelian sebanyak 5.000 liter dan masih tersisa 600 liter selanjutnya dijual ke PT Dharma Dwipa Utama setiap kali pembelian sebanyak 10.000 liter, PT Pundi Kencana Makmur sebanyak 5.000 liter dan BUMD Sumekar Kab Sumenep setiap kali pembelian 16.000 liter.

Untuk mengelabuhi petugas, kendaraan dump truk modifikasi dengan kapasitas 8 ton melakukan pembelian BBM/Bio Solar di SPBU 5469101 dengan harga Rp 5.275 dengan selisih harga Rp 125 dari harga resmi yaitu Rp 5.150 untuk BBM/Bio solar bersubsidi. Kemudian, dibawa ke pangkalan milik pelaku Tindah dan diambil oleh dump truk tangka milik PT Jagad Energy lalu dijual kembali ke industri.

Terbongkarnya kasus itu, polisi mengamankan 6 pelaku asal Bangkalan. Pelaku yang diamankan berbagi peran. Diantaranya, berinisial T sebagai pembeli, S sebagai sopir, K sebagai kernet, N dan MN pengawas, serta MS salah satu operator SPBU.

Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan, membeberkan, kasus penyalahgunaan BBM ini sudah berjalan selama 1 tahun. Luki merinci, setiap minggu para pelaku mengambil tiga kali BBM seberat 45 ton.

“Satu kali pengambilan ada 15 ton. Jadi setiap minggunya ada 45 ton,” ujar Luki, di SPBU Blega Bangkalan, Rabu (11/12).

“Jadi selama 1 tahun ada 2.160 ton,” imbuh Luki.
Pelaku diamankan sejak Sabtu (7/12) malam. Modus pengambilan BBM bersubsidi itu, lanjut Luki, dilakukan secara terbuka. Namun, pelaku melakukannya pada malam hari. Hasilnya dikirim kebeberapa daerah di wilayah Madura.

“Mengambil kesempatan pada malam hari, dan barang bukti yang diamankan 2 truk,” tandasnya. Menurut dia, BBM bersubsidi ini merupakan program pemerintah yang harus diawasi sesuai dengan kebijakan Presiden Joko Widodo, bahwa setiap program pemerintah harus diawasi bersama.

Atas perbuatan itu, palaku dijerat pasal 55 UU nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas (Migas) yang ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp 60 miliar. (ton)