Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Terdakwa Christian Andekarsa Raharjo mantan Relationship Manager bank HSBC cabang Surabaya harus gigit jari. Pasalnya, eksepsi kasus fiktif data nasabah telah memasuki pokok perkara.

Majelis hakim yang diketuai Yulisar menolak eksepsi atau keberatan Christian Andekarsa Raharjo, terdakwa kasus perbankan.

“Dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah disusun secara cermat dan lengkap. Serta secara jelas menguraikan tindak pidana yang telah dilakukan terdakwa,” ujar hakim Yulisar di  Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (4/12).

Pertimbangannya, hakim Yulisar juga menyatakan bahwa eksepsi yang diajukan terdakwa melalui kuasa hukumnya telah masuk ke pokok perkara. “Pasal yang digunakan Jaksa Penuntut Umum juga sudah tepat,” tegasnya.

Atas pertimbangan itulah, hakim Yulisar memutuskan untuk menolak eksepsi terdakwa. Seperti diketahui, Christian Andekarsa Raharjo sebelumnya menjabat selaku Business Development Manager atau Relationship Manager (RM) pada Kantor Cabang Surabaya PT Bank Ekonomi Raharja sekarang menjadi Kantor Cabang Raya Darmo Surabaya PT Bank HSBC.

Terdakwa dituduh memalsukan data fiktif agar dapat disetujuinya pengajuan kredit calon nasabah sehingga bank HSBC tempat terdakwa bekerja mengalami kerugian uang senilai Rp 80 miliar.

Chistian saat itu, tidak melakukan pemeriksaan atas keaslian PO dari SPK (SPM) sebagaimana syarat pencairan kredit yang akhirnya diketahui bahwa 17 (tujuh belas) SPK (SPM) tersebut fiktif. Selain itu, pencairan tetap dilaksanakan meskipun Standing Instruction sebagai salah satu syarat pencairan belum terpenuhi. Selain itu, Standing Instruction seharusnya dibuat sebelum pencairan atau drawdown untuk modal kerja per tanggal 02 Mei 2017, namun Standing Instruction baru dibuat oleh PT Cipta Raya Perkasa pada bulan sekitar bulan Juli 2017.

Sehingga terhadap pengajuan fasilitas kredit yang diajukan oleh PT Cipta Raya Perkasa, Terdakwa tidak melakukan verifikasi atas kebenaran dan keabsahan hubungan kerjasama antara PT Cipta Raya Perkasa dengan buyer dan supplier.

Bahwa pada proses drawdown, terdakwa selaku Relationship Manager (RM) tidak melakukan pengecekan yang memadai atas kebenaran dokumen underlying draw down kredit (PO/SPK /SPM/Invoice dan BAPM) untuk terpenuhinya covenant atau syarat pencairan kredit LAE (sebagaimana ditentukan dalam Persetujuan Kredit oleh Pemutus dan dalam Perjanjian Kredit) yaitu tidak terdapat Standing Instruction dari PT Cipta Raya Perkasa.

Bahwa dengan tidak dilakukannya pengecekan/verifikasi keaslian Kontrak/SPK/SPM/ Invoice, dan hanya menggunakan Kontrak/SPK/SPM/Invoice yang fiktif dijadikan underlying dalam pengajuan proposal kredit maka Terdakwa memberikan data palsu sehingga mengakibatkan adanya pencatatan palsu dimasukkan ke data kredit di buku kas besar PT Bank Ekonomi Raharja selanjutnya direkap ke dalam laporan bulanan, triwulan,  semester dan laporan tahunan bank HSBC.

Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana perbankan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 49 ayat (1) huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998. (ton)