Janji Pelindo III Lancarkan Ekspor Pertanian

21

Surabaya (bisnissurabaya.com)- DIDAMPINGI  Gubernur Jawa Timur/Jatim, Khofifah Indar Parawansa, dan Direktur Utama Pelindo III, Doso Agung, Menteri Pertanian Syachrul Yasin Limpo, di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya (2/12),  melepas ekspor hasil pertanian yang bernilai seluruhnya Rp 805,79 miliar berupa cengkeh untuk Brazil, biji kopi robusta untuk Italia dan pupuk organik untuk Singapura.

Mengapa harus ketiga tokoh itu menyaksikan pengangkatan puluhan container ke atas kapal yang akan menuju pelabuhan-pelabuhan negara tujuan tersebut? Ketiga-tiganya mempunyai ambisi masing-masing. Pertama, Menteri Pertanian, putera asal Sulsel, yang baru menjabat itu tekadnya selain memajukan kondisi pangan dalam negeri, juga ekspor hasil pertanian. Dari Jatim keinginannya itu bisa tercapai pada awal tugasnya sebagai Menteri. Kedua, Gubernur Jatim berbangga, karena ekspor produk pertanian yang diekspor itu adalah hasil atau lewat provinsinya. Ketiga, Dirut Pelindo III, karena sarana atau pangkalan pelaksana transportasi berupa kapal-kapal itu melewati pelabuhan utama di bawah perseronya. Sekaligus Mentan diajaknya memberikan sambutan dalam Rapat Kerja/Raker Pelindo III di Surabaya.

Menteri Syachrul menyatakan, sedang membangun sinergi dengan BUMN sektor jasa kepelabuhanan. Yakni, Pelindo III guna menggenjot dan mengakselerasi ekspor komoditas pertanian hingga sebanyak tiga kali lipat dari sekarang. “Target ekspor kita itu kan tiga kali lipat di pertanian. Untuk itu kita harapkan Pelindo mampu mengakomodasi agar proses di pelabuhan itu aman,” katanya. Sambungnya: “Hari ini satu sinergitas yang pasti saja sangat akan bermanfaat. Kenapa? Karena pertanian akan melakukan akselerasi ekspor dan pintunya itu tentu dilakukan oleh teman-teman di Pelindo. “Dia berpendapat, bahwa sinergi dengan Pelindo itu agar “pintu-pintu ekspor” lebih mudah dilalui, aksesnya lebih mudah dan tidak berbelit-belit, sehingga eksportir lebih nyaman untuk melakukan akselerasi ekspor yang dipersiapkan. Selain itu, Mentan menyanggupkan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mempersiapkan sarana hulu dari ekspor. Yakni, pengolahan dan processing komoditas ekspor tersebut.

Kesanggupan agar urusan ekspor tidak berbelit-belit diakui oleh Direktur Utama Pelindo III. Katanya dia berkomitmen tinggi dalam mengakselerasi ekspor komoditas pertanian hingga tiga kali lipat. Katanya, perseroannya telah menganggarkan sekitar Rp 6 triliun untuk berbagai program yang telah disusun. Kesemuanya mengarah ke modernisasi kepelabuhanan.  “Kami memiliki IT yang terintegrasi di seluruh pelabuhan, sehingga nantinya kita bisa bersinergi untuk kemudahan ekspor”. Diakuinya, mengenai tata kelola pelabuhan-pelabuhan itu sebelumnya, yakni terkendala oleh urusan dokumen, kapal dan container. Kini, dengan adanya data yang disampaikan Kementerian Pertanian, pihak Pelindo dapat mengetahui potensi ekspor dan asal dari wilayah yang bersangkutan.

Kita tahu, bahwa modernisasi tata kelola pelabuhan-pelabuhan di bawah Pelindo I, II dan III sudah dalam proses IT atau dengan sistem digitalisasi. Kalau Dirut Pelindo III, Doso Agung, menjanjikan tiga kali lipat proses akselerasi ekspor komoditas pertanian,– terutama dari wilayah Jawa Timur,– maka hal demikian janjinya tersebut bisa dijadikan pegangan. Karena proses adminsitrasi di segala bagiannya serba digital (sistem IT) yang berhubungan dengan pihak management pelabuhan-pelabuhan di bawah Pelindo III maupun yang di luar itu. Tentu saja dalam soak ekspor-impor dengan pihak pengusaha eksportir/ importir. Bukan hanya pada sektor sarana operasional IT itu, akan tetapi juga modernisasi tata kerja yang dilakukan di pelabuhan sendiri, seperti sistem kapal yang akan sandar atau bertolak, sistem bongkar-muat barang dan lain-lain yang lebih cepat dan profesional. Untuk hal demikian, semodern apapunsarana dan prasarana yang diadakan, kembali kepada manusia pengoperasionalnya. Para pelaku di Pelindo III.

Masalahnya sekarang, untuk memenuhi janji tiga kali lipat proses akselerasi komoditas pertanian untuk ekspor itu, maka dikembalikan kepada para eksportirnya, apakah juga mampu memenuhi janji itu: tiga kali lipat mengekspor komoditas produk pertanian tersebut? Kalau benar-benar bisa berbuat demikian, kita yakin bahwa provinsi Jawa Timur akan menjadi pengekspor terbesar produk pertanian Indonesia yang telah dipersiapkan melalui pengolahan dan processingnya di sektor hulu.   (amak syariffudin)