Hingga Hilir Bengawan Solo Kok Bisa Tercemar?

13

Surabaya, (bisnissurabaya.com) SEPANJANG sejarah Tanah Jawa, baru dalam musim kemarau 2019 ini sungai terbesar dan terpanjang di Jawa dan salah satu terbesar di Indonesia, airnya tercemar berat oleh limbah kimiawi. Airnya jadi berwarna hitam bercampur kemerahan. Padahal, air sungai yang berasal dari pegunungan selatan Surakarta dan melewati dua provinsi serta beberapa kabupaten sejak di Jawa Tengah hingga muaranya di Laut Jawa di Kabupaten Gresik. Kalau saja pak Gesang, pencipta lagu “Bengawan Solo, riwayatmu dulu…” masih hidup, dia akan menangis melihat aliran air sungai yang melewati bagian timur kota Solo itu bisa berubah menakutkan dan menjijikkan.

Beberapa komentar dari pihak pemerintahan daerah yang dilewatinya, air sungai itu sudah tercemar limbah berbagai industri dan peternakan. Yang dicurigai adalah limbah dari industri tekstil dan peternakan babi yang ada di karesidenan Solo dekat dengan perbatasan antara Jateng dengan Jatim.

Indikasi pencemaran itu diungkapkan oleh Pemda Bojonegoro yang melihat air sungai yang sangat dibutuhkan oleh warga kabupaten itu sebagai baku air minum dan pengairan pertanian dan secara terbuka mengeluhkan kondisi air bengawan itu. Pada hal, aliran air itu sebelum sampai ke Bojonegoro, melalui beberapa kabupaten di bagian selatan karesidenan Solo, kota Solo, kabupaten Sragen, kabupaten Ngawi, baru kabupaten Bojonegoro. Untung Gubernur Jawa Tengah/Jateng, Gandjar Pranowo (2/12) cepat-cepat bereaksi. Dia akan memanggil pengusaha industri yang berada di sepanjang kanan-kiri Bengawan Solo yang ada di provinsinya. Di kawasan itu terletak antara lain industri tekstil dan peternakan babi.

Bagi kami, ada hal-hal yang janggal ataupun disebabkan kurang pedulinya kalangan pelaku-pelaku di instansi yang berkaitan dengan urusan sungai. Terutama instansi-instansi di kabupaten-kabupaten dan kota yang dilewati oleh aliran Bengawan Solo. Bukankah di setiap kabupaten/kota ada Dinas-dinas seperti di bidang Pengairan, bidang Lingkungan Hidup dan lain-lain. Ketika air Bengawan Solo berubah warna menjadi kehitaman dan kemerahan, para pelaku itu tidak mengetahuinya. Atau tidak peduli. Atau malaslah berurusan dengan air. Kalaulah kondisi air macam itu di zaman cerita Joko Tingkir ketika mengarungi Bengawan dengan gethek (perahu dari bambu) dari daerah di Solo menuju daerah di Jepara yang kemudian melihat warna dan bau air demikian, sudah pasti bakal muntah-muntah. Tetapi para Joko Tingkir masa kini yang berdinas pada instansi yang bertanggung jawab soal Bengawan itu sejak berada di Gunung Kidul hingga Ngawi, tidak peduli air bengawan itu berubah warna dan berbau anyir. Mereka juga tidak muntah-muntah oleh bau anyir itu. Jadi, kalau ada masyarakat yang melapor mengenai pencemaran limbah itu, dianggap “itu sudah biasa”.

Jadi, harapan kami kepada pak Gandjar Pranowo, (juga bila sumber pencemaran ada di provinsi Jawa Timur/Jatim, maka kepada ibu Khofifah Indar Parawansa), bahwa bukannya hanya memperingatkan, akan tetapi lebih disukai langsung dilakukan penindakan hukum terhadap industri-industri maupun peternakan babi yang menjadi sumber pencemaran air sungai bersejarah tersebut, Kemudian penindakan (kalau perlu mengenai disiplin sebagai pegawai negeri sipil) kepada pelaku-pelaku di Dinas-dinas yang punya hubungan dengan pengawasan dan pemeliharaan air Bengawan Solo serta pemberian izin amdal pada perusahaan-perusahaan pencemar, yang seolah-olah “tidak tahu-menahu” telah terjadi pencemaran air sungai itu.

Apa semua pegawai negeri itu sehari-harinya duduk di belakang meja untuk mengerjakan tugas administrasi sampaipun main catur, tetapi tidak ada yang bertugas di lapangan dan mampu mendeteksi kondisi lingkungan Bengawan Solo?
Bayangkan, bahwa kita berada di era globalisasi. Kesemuanya sering terbuka. Terutama dalam hal informasi. Artinya, kalua kasus kondisi yang menimpa air Bengawan Solo itu menjadi bahan pemberitaan di media massa luar negeri, alangkah malunya pemerintahan kita. Menjadikan Indonesia Maju sebagaimana dicanangkan dalam pemerintahan sekarang, jangan dicemari oleh pencemaran lingkungan secara terbuka, tetapi luput dari mata pihak instansi bersangkutan setempat.

Lagu “Bengawan Solo, riwayatmu dulu…” yang pernah dinyanyikan dan digubah dalam bahasa Jepang dan dinyanyikan di Tokyo, jangan sampai mereka merubah gubahancnya dengan “Bengawan Solo, riwayatmu kini…”. Memalukan di zaman modern ini! (amak syariffudin)