(bisnissurabaya.com) – Kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial/BPJS Kesehatan belum tampak adanya gerakan turun kelas. Peserta asuransi ini terlihat seperti biasa. Pihak kantor BPJS Gresik belum merinci jenis keperluan kunjungan para peserta.

“Dari kunjungan peserta  ke kantor cabang kami jumlahnya masih rata-rata sama, sekitar 300 pengunjung per hari,”  kata Debby Hermawani Kepala Bidang (Kabid) SDM Umum dan Komunikasi Publik Kantor BPJS Kesehatan Cabang Gresik, pekan lalu. Dari jumlah ratusan itu lanjut Debby, bisa saja ada satu dua peserta yang merubah status kelasnya.

Khususnya bagi peserta mandiri. Namun, pihaknya belum merinci secara detail jenis keperluan kunjungan peserta BPJS Kesehatan. Saat ini, peserta BPJS Kesehatan di Kabupaten Gresik mencapai sekitar 900.000 orang. Atau dapat dikatakan sudah sekitar 75 persen dari jumlah penduduk di Kota Pudak ini.

Dari pantauan di lapangan, peserta akan terus bertambah. Ini tak lepas dari upaya kantor BPJS Kesehatan yang terus memasarkan program-programnya. Upaya pemasaran itu antara lain dengan mengirim armada Mobile Cutomer Services (MCS) ke kecamatan-kecamatan yang ada di Gresik.

“Masyarakat rupanya sudah merasakan manfaat dari kepesertaan BPJS Kesehatan ini, sehingga peserta di Gresik terus menunjukkan perkembangan yang signifikan,” tambah wanita asli Kabupaten Pati ini. Intinya, dengan memiliki kartu BPJS Kesehatan, peserta yang membutuhkan pengobatan akan dilayani  dengan cepat.

Asal tidak memiliki tunggakan. Dijelaskan memiliki tunggakan tetap dilayani dengan catatan harus melunasi dulu besaran tunggakan. Sekarang ini masyarakat tidak perlu susah mencari tempat berobat, mengingat Kantor BPJS Kesehatan Gresik telah menjalin kerja sama dengan 30 unit rumah sakit yang ada  di Kota Santri itu.

Mulai Rumah Sakit/RS Ibnu Sina yang berada di pusat kota sampai yang ada di pinggiran. Baik rumah sakit yang berada di pinggiran kota seperti di Wringin Anom, Balongpanggang, Panceng bahkan Bawean semua sudah terjalin kerja sama.

Salah seorang peserta BPJS Kesehatan asal Desa Prambangan Kebomas, Arifin Yuanto, mengatakan, iuran BPJS dinaikkan tidak apa-apa, asalkan pelayanan juga ditingkatkan. “Kalau naik iurannya ya harus diimbangi pelayanan. Pelayanannya harus lebih baik,” harap Arifin, yang sehari-harinya berjualan bakso ini. Seperti diketahui Presiden telah  resmi meneken aturan kenaikan iuran BPJS Kesehatan, yang berlaku  mulai 1 Januari 2020. (sam)