Produsen Vape : Kebijakan Karena Takut dan Curiga

60

Surabaya (bisnissurabaya.com)SUARA-suara santar tentang pelarangan produk dan penjualan rokok-elektrik atau ‘vape’ di Indonesia nampaknya membuat para produsennya mulai keder. Di Amerika Serikat, sedikitnya dua negara bagian sudah melarang produksi dan penjualan vape, karena terbukti pemkbawa penyakit paru-paru maupun kecanduan narkotika.

Ketua dari salah satu organisai asosiasi mereka, Aryo Andrianto dari Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) bersuara cukup keras (28/11) mengkritik pemerintah. Dia menghujat pemerintah, dengan alasan bahwa vape selain menjadi pilihan alternatif perokok dewasa yang berniat berhenti, namun masih berat, produksi vape itu muncul sebagai industri baru yang memiliki potensi pertumbuhan yang besar. Sejak resmi beredar di Indonesia, vape telah dikenai tarif cukai 57 persen dan katanya telah menyumbang ratusan miliar sejak cukai diberlakukan.

“Industri ini sangat memiliki potensi pertumbuhan yang besar, bahkan dalam laporan bea dan cukai, kami sudah menyumbangkan sebesar Rp 700 miliar sejak awal cukai berlaku,” katanya membanggakan kelompok industrinya dan menambahkan, bahwa industrinya itu berpeluang menambah devisa negara lewat ekspor. Lalu mengeluh, bahwa belakangan ini muncul kecemasan di Indonesia akan penggunaan rokok elektrik.
Sebabnya bukan dari negeri sendiri, tetapi justru karena kejadian di Amerika. Kasus penyakit paru-paru di negara itu memprihatinkan dan produk rokok elektronik terkena imbas negatif.

Kekhawatiran itu lalu berujung pada wacana pelarangan. Kata Aryo, bahwa berbagai temuan termasuk fakta yang diungkap Centers for Diseases Control and Prevention (CDCP) dan Food and Drugs Administration (FDA) Amerika, menemukan indikasi kuat kasus tersebut disebabkan cairan ekstrak ganja.

Pada pokoknya, Ketua APVI itu sambil mengajak sesama organisasinya yang tergabung dalam Asosiasi Vapers Industri (AVI) dan Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO) minta pemerintah untuk mempertimbangkan ulang kebijakan yang akan dipilih, agar kebijakan itu tidak didasarkan pada ketakutan dan kecurigaan semata!
Sebagai orang yang berkepentingan dengan duitnya, Aryo Andrianto, dan kawan-kawannya sesama produsen vape bisa saja mengemukakan jasa-jasa mereka mengisi ketentuan cukai tembakau/rokok dan beranggapan juga menguntungkan devisa negara karena produk-produknya yang diekspor. Sebagai pihak pemerintah dan masyarakat, boleh juga merasa takut dan terutama curiga bahwa cairan bahan kimia yang kemudian dirubah menjadi asap rokok melalui peralatan vape itu kemungkinan mengandung benih-benih penyakit. Terutama menjadi penyebab penyakit paru-paru dan kanker. Juga tidak ada kenyataan secara ilmiah dan bidang ilmu kesehatan, bahwa perokok berat yang mau berhenti merokok bisa melalui tahap menghisap vape!
Pemerintah kita tentu masih menimbang-nimbang, apa yang harus dilakukan terhadap produksi dan produsen vape itu. Kalau benar pernyataan yang membanggakan diri dari Ketua APVI itu mengenai kewajibannya bayar pajak (ingat: bukan sumbangannya) sebesar seperti yang dikatakannya, maka pemerintah pun menimbang-nimbangnya, apakah masih patut vape dibolehkan diproduk di Indonesia ataukah dilarang sama sekali.
Ataukah sesuai yang dibanggakan Aryo, mengenai pajaknya untuk membantu devisa negara melalui produk ekspornya. Maka apakah diambil kebijakan: boleh memproduksi vape di Indonesia tetapi hanya untuk ekspor dan dilarang diperjual-belikan di dalam negeri.

Pemerintah sendiri juga kurang tegas dalam urusan ini. Semestinya menugaskan Lembaga-lembaga penelitian yang ada kaitannya demi kesehatan manusia,– dan terutama yang ada dibawah Kementerian Kesehatan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI,– cepat-cepat meneliti pengaruh atau dampak cairan rokok elektronik alias vape itu. Kalaulah memang masih memperhitungkan duit cukai rokok yang masuk ke kas negara, maka juga harus memperhitungkan berapa triliun rupiah untuk penyembuhan kesehatan yang bisa ditimbulkan oleh racun yang kemungkinan bisa dibawa vape. Tidak sulit “mengisi” narkotik dalam cairan itu. Lagipula, produsennya tidak cuma satu-dua, tetapi sudah ratusan. Semua jujur?
Berulang saya tulis dalam Opini mengenai vape ini. Masyarakat bertanya, jaringan perekonomian dan kehidupan sehari-hari kalau diperbandingkan antara produksi rokok tembakau dengan rokok elektrik, maka lebih luas dan banyak yang mana? Sedikit saja menyoal “mata rantai” yang berpengaruh terhadap perekonomian rakyat dari produk rokok tembakau. Mulai petani tembakau, buruh tani yang mengerjakannya dan memetik hingga dalam proses dijadikan tembakau siap pakai, proses pengangkutan dari lokasi pengeringan tembakau ke pabrik rokok, ratusan hingga ribuan buruh pemroses dijadikan rokok kretek atau sigaret atau cerutu, sampai kemudian pada penjualannya yang mencapai penjual pinggir jalan. Kemudian cukai tembakau pun sudah cukup tinggi. Bagaimana kalau dibandingkan dalam proses produksi rokok elektronik?
Jadi, kalaulah produsen vape mencurigai pemerintah dalam kebijakan terhadap produknya berdasarkan ketakutan dan kecurigaan terhadap produk tersebut bagi kesehatan dan kemaslahatan masyarakat, kiranya tidak bisa disangkal. Takut jangan-jangan produk itu memang benar bisa menjadi penyebab penyakit paru-paru atau kanker dan jelas membahayakan kesehatan rakyat.

Curiga, jangan-jangan disalah satu produk cairan vape itu dimasuki unsur narkotik demi kecanduan. Masalahnya, masih banyak teka-teki dibalik pengolahan cairan yang bisa dirubah menjadi asap lewat alat vape itu. (amak syariffudin)