Bogor, (bisnissurabaya.com)- Penataan daerah  dititikberatkan pada penataan ruang suatu daerah, dengan upaya peningkatan produktivitas geografis dan efisiensi sumber daya yang dimiliki dan diatur dalam sebuah aturan pemanfaatan tata ruang. Diantaranya, sistem transportasi. Sistem transportasi bagian yang tidak terpisahkan dari infrastruktur setiap daerah. Baik di perkotaan maupun di pedesaan. Salah satu hal  strategis penataan ruang sistem transportasi daerah yaitu teminal. Terminal adalah tempat sekumpulan bus mengakhiri dan mengawali lintasan operasionalnya. Terminal Baranangsiang merupakan fasilitas umum yang digunakan untuk kebermanfaatan masyarakat. Dalam hal ini merupakan pergerakan manusia dan barang dari satu tempat ke tempat lainnya di wilayah Bogor.

Mengacu fungsi terminal sendiri yaitu untuk kenyamanan menunggu dan kenyamanan arus perpindahan dari suatu moda atau kendaraan ke moda transportasi lain. Serta tempat implementasi manegemen lalu lintas agar mengurai kemacetan dan dijadikan pula oleh pemerintah sumber pemungutan retribusi daerah. Berkaca pada fungsi terminal tersebut. Fungsi terminal Baranangsiang jauh dari kata ideal. Berbagai permasalahan bermunculan di satu tempat yang berada di pusat kota Bogor tersebut. Faktor kenyamanan menjadi perhatian utama. Kekumuhan dan tidak sedap dipandang menjadi pemandangan yang lumrah setiap harinya. Karena itu, masyarakat cenderung enggan untuk menggunakan transportasi umum. Genangan air serta situasi yang becek di terminal pada saat hujan menambah suasana kekumuhan terminal. Tidak jarang, masyarakat harus terkena cipratan air dari arus lalu lintas transportasi bus yang berlalu lalang.

Jalan yang tidak rata penuh  lobang pada terminal yang dekat dengan istana kepresidenan. Menambah luka yang harus diobati. Tidak heran terdapat suatu gerakan dari warga setempat untuk mengumpulkan dana sekedar untuk memperbaiki jalan yang berlubang. Perlunya tindak lanjut pemerintah daerah untuk merevitalisasi terminal, namun tak kunjung datang. Tata kelola yang kurang tepat pada Terminal Baranangsiang tidak berhenti sampai disini. Problematika pengaturan operasional bus menjadi keluhan penumpang yang kerap kali memekakan telinga. Ngetem yang berjam-jam tidak mengherankan emosi penumpang menjadi permainan. Tidak sesuai jam pemberangkatan hal wajar dan perlu dilumrahkan di Terminal Baranangsiang ini.

Revitalisasi Terminal Baranangsiang yang terkatung-katung tanpa jelas, dipastikan akan mulai dikerjakan. Revitalisasi Terminal Baranangsiang masa depan, memiliki konsep bukan hanya melayani transportasi bus, akan tetapi menjadi stasiun akhir untuk LRT yang segera tersambung ke kota Bogor. Terminal Baranangsiang sekarang dibawah pengelolaan pemerintah pusat melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), namun rencana revitalisasi terminal yang sudah ada sejak 1970-an itu belum juga menemui titik terang. Padahal, rencana perbaikan terminal sudah digaungkan akan terealisasi pada akhir tahun. Sampai saat ini  BPTJ masih berusaha meyakinkan investor awal, yang sudah menjalin kerjasama Build-Operate-Transfer (BOT) dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sebelum serah terima aset, agar segera bisa memulai pembangunan.

Harapan masyarakat Bogor menggunakan moda transportasi Light Rail Transit hampir mendekati kenyataan. Dikarenakan Terminal Baranangsiang akan menjadi stasiun akhir LRT tujuan Jakarta-Bogor dipastikan mulai dibangun 2020. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama BPTJ sepakat membangun stasiun akhir light rail transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) di Terminal Baranangsiang, Bogor. Dipilihnya Terminal Baranangsiang sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 49 tahun 2017 yang menentukan kawasan itu menjadi lokasi strategis untuk stasiun terakhir LRT Jabodebek. Sesuatu hal yang harus dipersiapkan Pemkot Bogor saat ini adalah membangun angkutan feeder antar moda transportasi. Sebab, dampak adanya kereta ringan tak dirasakan masyarakat secara maksimal tanpa adanya angkutan penyambung.

Kehadiran moda transportasi berupa LRT dapat mendorong masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan menggunakan transportasi umum. (dwi arifin/mahasiswa ilmu ekonomi IPB)