Sarana e-Transportasi Pembuat Bingung

21

Surabaya (bisnissurabaya.com)KETIKA masih kanak-kanak, saya merasa senang dan bangga, ketika suatu hari ayah membelikan sebuah otopet. Menaikinya sambil berdiri dengan satu kaki menaikinya dan kaki satunya memancal tanah, sehingga dengan otopet itu bisa meluncur puluhan meter atau berputar-putar sekeliling halaman rumah yang luas dengan kecepatan sesuai kekuatan kaki yang memancalnya. Saya merasa bangga, karena di zaman penjajahan Hindia Belanda itu yang memiliki otopet terbanyak anak-anak Belanda atau Indo-Belanda dan sebagian anak-anak keluarga Tionghoa yang rumahnya di tepian jalan. Dijajaran kampung kami, baru saya yang mempunyainya. Banyak orang dewasa menyaksikan saya ataupun kakak saya berotopet. Di zaman itu, kalau ada orang dewasa mencoba menaiki otopet, sudah pasti menjadi perhatian orang banyak. Dianggap tidak tahu diri atau mengolok-olok kalua sewaktu kecilnya tidak pernah berotopet. Dengan menaiki otopet, dari kata aslinya autopad (pancal sendiri), bisa mencapai puluhan meter dibandingkan dengan berjalan kaki.

Sudah 70 tahun sejak saya bermain-main dengan otopet macam itu. Kini tiba-tiba muncul “kendaraan” jenis itu, tetapi digerakkan dengan tenaga listrik. Dimulai di negara-negara teknologi maju seperti Eropa Barat dan Amerika Serikat, tiba-tiba saja jalanan di kota-kota diramaikan lalu lintas “alat transportasi” tersebut. Karena tidak memancal sendiri, orang-orang di Indonesia menyebutnya “scooter listrik”. Mungkin saja terpengaruh bahasa Jawa tentang kata “skuter” dari “suku diputer” (kaki diputar). Di negara-negara itu, yang bersliweran menaikinya ialah orang-orang dewasa, lelaki-perempuan, untuk keperluan ke tempat pekerjaan, berbelanja atau rekreasi. Jalan raya ataupun trottoirnya jadi sarana e-scooter itu, sehingga sering membingungkan pengemudi mobil dan pejalan kaki.

Jakarta tiba-tiba saja menjelang akhir tahun ini dilanda e-scooter. Dampak negatifnya, sudah ada korban-korban tewas yang tertabrak mobil . Ada juga pejalan kaki diterjang kendaraan itu. Maklum, jalan-jalan raya di kota-kota kita rata-rata tidak lebar tetapi dipenuhi segala jenis mobil, truk, bus dan ratusan ribu sepeda motor. Pendek kata, pihak Polisi Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan Darat DKI Jaya masih sibuk dengan urusan sarana transportasi yang ada, urusan tilang karena pelanggaran pengendaranya, tiba-tiba muncul masalah scooter listrik itu. Berminggu-minggu dua instansi itu bertemu, berusaha memecahkan permasalahannya dan masing-masing mengeluarkan aturan bagi e-scooter.

Antara lain dinyatakan, e-scooter bukan alat transportasi, tetapi untuk rekreasi alias main-main. Tidak boleh lewat jalan raya. Boleh lewat jalur sepeda. Tidak boleh dinaiki sewaktu menaiki jembatan penyeberangan, dan macam-macam lagi. Yang unik, yang menaikinya minimal harus berusia 17 tahun ke atas. Anak-anak dilarang menaikinya, Berbahaya bagi dirinya dan orang-orang di jalanan. Justru sangat berbalik dengan sewaktu “jaman otopet” dulu!

Era revolusi-teknologi kini memang banyak hal yang tidak pernah terpikirkan dulunya, tiba-tiba sudah terwujud di depan mata. Tahun depan ini, produsen pertama sepeda motor listrik (e-motorcycle) di negara kita bakal melepas sedikitnya 2000 sepeda motor listrik ke pasaran. Untuk jenis kendaraan ini aturannya tidak susah, karena bisa disamakan untuk jenis sepeda motor bertenaga bensin sekarang. Cuma pengendaranya harus berhati-hati. Begitu pula bagi para pengguna jalanan.

Sebab, sepeda motor listrik tidak bersuara. Tidak perlu knalpot seperti sepeda motor konvensional. Tahu-tahu…wesss. Kalau cuma 2000 unit untuk keluaran pertama, jelas sudah habis terjual di Jakarta saja. Itupun masih dianggap sangat kurang.

Pendek kata, revolusi-industri melahirkan begitu banyak produk serba canggih. Terutama pada sektor teknologi-komunikasi. Orang tak habis pikir, kok bisa begitu? Apa bisa terjual? Kalau masalah penjualannya, orang-orang pasti membelinya, karena piranti teknologi canggih itu diperlukan untuk berbagai kepentingannya. Mulai kebutuhan dalam kehidupannya sampai dengan demi gaya.
Para pemikir dan perancang di luar negeri kini sudah membuat “mobil terbang” dan rancangannya nanti ada “taksi terbang” guna mengatasi kemacetan di jalanan. Kali ini bukan bermesin seperti jet, tetapi memakai baling-baling seperti drone. Kalau kendaraan ini masuk juga ke Indonesia, bersyukur belum bisa dipakai di dalam kota-kota besar kita. Masalahnya, bisa tersangkut alias kecantol “rimba kabel” yang memenuhi seluruh pinggiran jalanan dan malang-melintang menyeberangi jalanan kota. Apa kabel listrik, kabel telepon dan kabel untuk lain-lain keperluan. Semrawut merusak keindahan arsitektur kota. Begitulah kisah di jalanan kota kita. (amak syariffudin)