Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Museum Pendidikan ini akan menjalin hubungan dengan kolektor. Kolaborasi dengan kolektor ini untuk mendapatkan berbagai koleksi dan menggali informasi, yang detail tentang barang-barang di museum ini.

Kepala Dinas  Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Antiek Sugiarti, mengatakan, komunitas vintage atau sejarah selain membantu isi koleksi museum pendikan, juga museum-museum lainnya.

“Seperti Museum 10 November, Museum Olahraga, kita kolaborasi dengan kolektor,” kata Antiek, saat serah terima barang koleksi Surabaya Vintage Community ke Disbudpar di Museum Pendidikan Selasa (26/11) pagi.

Namun demikian, kata dia, barang-barang koleksi yang masuk semuanya di check terlebih dahulu oleh narasumber ahli maupun kurator berkaitan dengan tahun pembuatannya, termasuk jika dipasang di museum dengan huruf pegon serta apa saja isinya bisa diketahui.

“Jadi untuk mengecek, memang kita menggunakan narasumber ahli dengan kurator untuk mengetahui tahunnya, jika diterjemahkan isinya apa dan darimana,” jelasnya.

Kadisbudpar menambahkan, pihaknya saat ini tengah mengatur story linenya mulai dari jaman pra aksara, jaman kerajaan, kolonial, perjuangan hingga kemerdekaan. Meski belum optimal, karena penempatan dan stadarisasinya masih dalam proses.

Sementara, Ketua Umum Surabaya Vintage Community, Ali Budiono, saat penyerahan barang-barang koleksi menyampaikan, sebanyak 80 persen koleksi Museum Pendidikan merupakan barang-barang dari komunitasnya. Pihaknya mengumpulkan barang-barang tersebut selama tiga bulan. Beberapa barang koleksi yang diserahkan ke Disbudpar untuk mengisi koleksinya. Antara lain, Sabak, buku tulis, buku pelajaran, manuskrip atau naskah kuno, mesin ketik, dan alat laboratorium.

Ali menyebut, jumlah barang yang datang dari komunitasnya di museum pendidikan sekitar 700 koleksi. Koleksi tersebut pengumpulannya, dari hasil komunikasi antar komunitas barang-barang kuno. Di Surabaya terdapat 500 anggota komunitas, sedangkan di Indonesia jumlahnya ribuan.

“Misalkan sabak, kita kesulitan menemukannya saat ini. Kita dapat lumayan banyak dari daerah Jawa Tengah. Di Surabaya sulit mendapatkannya,” jelasnya.

Terkebih, bahwa sejumlah koleksi yang diserahkan ke Disbudpar datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa tengah, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa Timur. (ton)