Hari Guru : Mengapa Merubah Pola Mengajar?

370

Surabaya (bisnissurabaya.com) BARANGKALI pertama kalinya usai era Orde Baru (pemerintahan Presiden Suharto), seorang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan perubahan cara belajar-mengajar buat para guru Indonesia. Ketetapan untuk perubahan pola belajar-mengajar itu dinyatakan oleh Menteri Pendidikan & Kebudayaan Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Makarim, menyambut Hari Guru Nasional 2019 pada Senin 25 November. Dia menyebutnya sebagai “Pesan” dari Menteri untuk para guru se-Indonesia.

Pesannya itu meliputi 5 cara: (1) Mengajak kelas untuk berdiskusi. Bukan hanya mendengar. (2) Memberi kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. (3) Cetuskan (rancang) proyek proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. (4) Dia minta, agar guru menemukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. (5) Menawarkan bantuan kepada (sesame) guru yang sedang mengalami kesulitan.
“Apapun perubahan sekecil itu, jika tetap guru yang melakukan secara serentak, kapal besar bernama Indonesia pasti akan tercapai,” katanya. Dia beranggapan, setiap anak mempunyai kebutuhan berbeda. Tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi. “Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi tidak memberi kepercayaan kepada mereka untuk berinovasi,” Demikian Mendikbud.
Sekilas “pesan” itu nampaknya gampang saja. Akan tetapi dalam praktiknya, langkah tersebut bagi setiap guru (terutama mulai tingkat SMP keatas) yang mengajar di kelas, bakal merupakan perubahan mental dan tindakan profesinya yang jauh dari apa yang pernah dipikirkan dan dilakukannya dalam mendidik para siswanya. Sebenarnya, pola demikian berdasarkan pengalaman Nadiem, belajar di luar negeri tertentu, seperti di Amerika Serikat.

Sebagai contoh pola belajar-mengajar di Jepang, untuk para siswa setingkat SMP-SMA, jam belajar paling lama 4 jam. Sisanya untuk kegiatan para siswanya, apakah bekerja-paruh-waktu dan berkreasi sendiri dan lain-lain yang mengarah tindakan pra-kerja.
Untuk para guru (dan juga malahan sebagian dosen perguruan tinggi) kita, pola mengajar seperti itu berarti mengarahkan pemikiran dan tindakan para siswa atau mahasiswanya untuk mampu melakukan inisiatif dari apa yang diinginkan atau ditujunya dalam kehidupannya nanti.

Zaman bergerak sangat laju didorong oleh kemajuan teknologi. Terutama teknologi komunikasi yang menjadikannya perkembangan maju e-teknologi. Tingkat kehidupan sosial-ekonomi tidak lagi tergantung dari pola hidup yang pernah diajarkan pada generasi lampau dan sebagian masih berlaku untuk generasi kini. Namun, generasi milenial mengalami desakan dan tarikan kehidupan e-teknologi. Sehingga terkadang bisa dianggap bertentangan dengan nilai-nilai budaya bangsa kita. Karenanya, pesan Mendikbud itu adalah antara lain mendidik para siswa untuk menghadapi desakan teknologi komunikasi/e-teknologi, namun tetap bersikap dan berpegang pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

Kalaulah para guru bisa memahami makna apa yang ada dibelakang pesan tersebut, maka anda yang menjadi pegawai pemerintah ataupun swasta, akan tetap dianggap sebagai “pahlawan bangsa” karena mendidik untuk memajukan anak-anak Indonesia melalui pelaksanaan pendidikan yang anda lakukan.

Hal demikian berarti, bahwa guna memenuhi predikat seperti diatas,-menjadikan kaum milenial sekarang menjadi putera-puteri harapan bangsa,– adalah bagaimana para lulusan sekolah/perguruan tinggi anda masing-masing bakal menjadi warga negara yang mandiri dalam kehidupannya dan selalu bergerak maju dalam kancah kehidupannya. Selamat ulang tahun Hari Guru Nasional 2019. (amak syariffudin)