Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Sebanyak 36 pengusaha pabrik tahu di Desa Tropodo Krian akan mengadukan nasibnya dihadapan Muspida Sidoarjo Selasa (26/11). Tidak hanya itu, pengusaha tahu ini juga akan mengundang Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, untuk menyelesaikan pabrik tahu-nya yang menggunakan proses pembakaran dengan sampah plastic yang sudah dipotong-potong itu.

‘’Saya akan kumpulkan semua pengusaha tahu yang ada di Desa Tropodo Krian yang jumlahnya 36 orang ini, untuk menjelaskan operasional pabrik tahu yang sudah berlangsung puluhan tahun ini dihadapan Muspida Sidoarjo termasuk gubernur Jatim,’’ kata Kades Tropodo, Ismail, kepada bisnissurabaya.com, di Desa Tropodo Krian Sidoarjo, Jum’at (22/11) sore.


Ismail, yang juga pemilik pabrik tahu AR di Dusun Areng-areng Tropodo Krian ini, cukup terusik dengan berita yang menyudutkan pengusaha pabrik tahu yang sudah menggunakan sampah plastic untuk memproses pembuatan tahu ini. Sebab, akibat penggunaan sampah plastic untuk proses pembakaran, mengakibatkan udara tercemar dan telur ayam sekitar desa itu diduga terkontimasi dioksin yang cukup berbahaya bagi kesehatan itu.

Untuk menyelesaikan hal itu, Ismail, yang akrab disapa Abah Is, ini berencana mengumpulkan 36 pengusaha pabrik tahu untuk mengadukan nasibnya dihadapan pejabat Muspida Sidoarjo dan Gubernur Jatim. Sebab, sebagian besar pemilik pabrik tahu di desa ini adalah mewarisi orang tuanya yang memiliki pabrik tahu. Kemudian anak-anak juga mendirikan parik tahu serupa di desa itu. Sehingga jumlahnya mencapai 36 pabrik tahu.
Hal senada juga dikemukakan pemilik pabrik tahu R, Muhajir. Ia menyatakan, dirinya menggeluti soal tahu sejak 1972 saat dirinya masih kecil. ‘’Orang tua saya memiliki pabrik tahu dan saya teruskan bersama kakak saya Abah Is,’’ kata Muhajir. Karena itu, puluhan pengusaha pabrik tahu heran karena pabrik tahu di Desa Tropodo yang menggunakan sampah plastic untuk proses produksi tahu dikait-kaitkan dengan temuan telur ayam yang terkontaminasi dioksin yang diduga berasal dari asap sampah plastic itu.

Sampah Plastik (foto/bw)

Tak heran, sejumlah instansi pemerintah Jum’at (22/11) pagi turun untuk mengambil sample mulai dari tahu, asap, udara, sapi, ayam dsb. Mereka diantaranya, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit/BBTKLPP Surabaya dibawah Kemenkes, Balai Besar Penelitian Veteranian Bogor, Dinas Pertanian Sidoarjo serta instansi lainnya yang terkait, berlomba-lomba mengambil sample untuk dilakukan penelitian.
Di lokasi pabrik tahu R, nampak tumpukan sampah plastik yang sudah berbentuk cacahan berukuran kecil. Tak begitu lama, petugas pabrik tahu kemudian memasukkan ke tempat pembakaran yang di atasnya terletak wajan berukuran cukup besar. Sampah plastik ini digunakan untuk menjaga agar apinya tetap membara. Jadi kalau api sudah terlihat mulai mengecil, sampah plastik dimasukkan kembali. Begitu seterusnya.

Adapun kelebihan yang diperoleh ketika menggoreng tahu memakai sampah plastik, salah satunya cepat mudah terbakar dan tidak perlu menunggu lama untuk menghasilkan api pembakaran. Selain itu api yang dihasilkan lebih besar daripada memakai kayu bakar. Proses pembakaran dengan sampah plastic ini diduga mencemari dan mengakibatkan telur ayam terkontaminasi dioksin. (bw)