Sidoarjo,(bisnissurabaya.com)Gina Gutierez Luceno alias Ruqqayah istri narapidana terorisme/napiter, Umar Patek, resmi menjadi warga negara Indonesia (WNI) pada Rabu (20/11). Penantian selama delapan tahun lamanya itu, akhirnya berbuah manis ketika surat keterangan kewarganegaraan Indonesia diserahkan langsung Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius, di Lapas Klas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, Jatim.

Sekedar diketahui, Ruqayyah, tidak menyangka permohonan yang diajukan sudah lama akhirnya dikabulkan. Sejak 2011 ia mengajukan diri sebagai WNI. Setelah vonis 20 tahun yang dijatuhkan terhadap suaminya sejak 2012 silam. Pengajuan serupa dilakukan, namun, belum ada jawaban.

Tidak mudah, bagi Ruqqayah, untuk mengajukan permohonan. Perempuan kelahiran Cebu, Filipina, itu benar-benar ingin menjadikan diri sebagai WNI. Dia mulai belajar bahasa Indonesia pada suaminya meski prosesnya tidak mudah.

“Pemberian WNI ini melalui banyak pertimbangan mulai dari pemangku kepentingan seperti BIN, Densus dan semua instansi terkait dan juga apa yang sudah dilakukan Umar Patek termasuk aspek kemanusiaan,” terang Suhardi Alius, disela penyerahan surat keterangan WNI kepada istri Umar Patek.

Suhardi Alius, menceritakan, pada 2,5 tahun yang lalu, dirinya sempat bertemu dengan Umar Patek, dan saat itu dia sempat diminta untuk membantu istrinya menjadi WNI.

Melihat niat yang luar biasa dari Umar, Suhardi, minta permohonan diproses sesuai ketentuan. Terlebih, Umar juga sering menunjukkan kesetiaannya kepada negara. Salah satunya dengan menjadi anggota pasukan pengibar bendera Merah Putih. ”Tolong jaga kepercayaan ini,” pinta Suhardi kepada Umar Patek, dan istri.

“Dan hari, Selasa (20/11) sudah terpenuhi, dengan kegiatan surat keterangan dapat dimaknai dengan utuh dan baik, sosial warga binaan dan WNI,” tandas Mantan Kabareskrim Polri ini.

Ia mengungkapkan, kepada keluarga Umar Patek, diharapkan bisa menjaga kepercayaan dan juga mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini yang berlandaskan pancasila.

“Pahami cerminan NKRI di tengah masyarakat dan lapas sebagai warga negara,” imbuh Suhardi ini.

Pengabulan permohonan kewarganegaraan Indonesia dari Gina Guiterez, tersebut berdasarkan pertimbangan kemanusiaan, serta asas pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Sementara, Umar Patek, mengaku senang dengan diberikannya status WNI terhadap istrinya yang sebelumnya berkewarganegaraan Filipina itu.

“Saya berterima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan kewarganegaraan setelah sejak 2011 silam mengajukan kewarganegaraan ini,” beber Umar Patek.

Dirinya mengakui istrinya itu dinikahinya saat berada di kamp para Mujahid di Mindanau, Filipina. “Saat itu saya memastikan keamanan keluarga istri saya saat pernikahan berlangsung. Termasuk tidak menembakkan senjata api yang biasa kami lakukan jika ada pelaksanaan pernikahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama dirinya menjalani masa tahanan di Lapas Porong, istrinya selalu mendampingi dengan mengontrak rumah (kos) di sekitar Lapas Porong.

“Sudahlah, kami minta kepada teroris supaya tidak melakukan aksinya. Indonesia itu adalah negara yang cinta damai dan memberikan kesempatan beribadah bagi seluruh umat manusia,” pungkasnya. (ton)