Surabaya, (bisnissurabaya.com)- KETIKA teroris pembom bunuh diri di Mapolresta Medan yang melukai 4 orang anggota Polisi dan 2 orang sipil itu ternyata adalah mahasiswa perguruan tinggi di kota itu. Menurut nalar kita, bahwa daya pikir pelaku iitu meskipun berstatus mahasiswa yang semestinya juga dapat berpikir secara nalar dan cendekia, ternyata masih dikalahkan oleh kekuatan faham radikalisme yang mengarah ke terorisme yang bakal merusak negara dan bangsanya sendiri.

Yakni, otaknya yang semestinya bisa berpikir dengan serba penalaran sebagai seorang mahasiswa itu ternyata kalah oleh racun pemahaman radikalisme terhadap sesuatu faham dan agama. Percaya pada ajaran, bahwa siapapun yang melakukan bunuh diri untuk membunuh atau mencederai lawan atau orang-orang yang tidak disukainya, bakal masuk surga dan dikerumuni para bidadari.

Tidak salah, banyak media sosial secara seloroh menulis, bahwa bom yang meledak itu justru menghancurkan alat vital teroris itu, sehingga para bidadari yang mengerumuninya menjadi terheran-heran dan kebingungan. Intinya, ‘cerita sindiran’ itu mau menggambarkan tentang kebodohan pikiran. bahwa bunuh diri “bersyahid” yang bisa membawa korban bagi orang lain itu sebagai mati syahid dan dijemput para bidadari .

Cerita itulah yang dikembangkan oleh kelompok teroris ISIS di Irak/Syria/Iran yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Menurut pihak Kepolisian, ternyata pembom bunuh diri di Medan itu berfaham ISIS. Begitu pula ketika 18 orang yang kemudian diringkus oleh Densus 88 Kepolisian di Medan dan Sumatera Utara lainnya, termasuk dua orang yang ditembak mati karena melakukan perlawanan.

Tindakan tegas yang perlu kita apresiasi, sebab berarti bisa mengurangi jumlah pelaku yang berencana melakukan terorisme. Jadi, benar juga ada pendapat dari para pengamat kejahatan terorisme di negara kita, bahwa katanya faham radikalisme itu juga mempengaruhi beberapa mahasiswa kita. Salah satu dari sasaran teror oleh mereka itu bukan hanya pada sektor kegiatan politik, terutama politik pemerintahan, akan tetapi usaha untuk mengacaukan kondisi stabilitas perekonomian negara dan rakyat.

Diantara sasaran pengacauan itu adalah melakukan sabotase proses management dan pelaksanaan pekerjaaan perusahaan-perusahaan milik negara. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir pada Jumat (15/11) buru-buru menegaskan, bahwa terduga teroris bukan lagi bagian dari BUMN. Secara hukum menurutnya, terorisme merupakan kejahatan yang menimbulkan kerusakan dan korban.

“Apabila secara hukum yang bersangkutan terbukti bagian dari aksi terror, maka serta merta orang tersebut bukan lagi menjadi bagian dari Kementerian BUMN.” ujarnya. Pernyataannya itu berkaitan dengan penangkapan seorang teroris di Cilegon, Banten, yang diduga menjadi karyawan BUMN Krakatau Steel Tbk (KRAS). Singkat kata, oknum karyawan itu langsung dipecat dari tempat pekerjaannya.

Memang dapat diperkirakan, bahwa sekruang-kurangnya kalaulah ada oknum karyawan perusahaan BUMN, apalagi pada perusahaan strategis seperti PT Krakatau Steel adalah teroris, sudah pasti arahannya adalah bagaimana dapat melakukan sabotase terhadap keberadaan perusahaan itu. Memang saatnya kini Pemerintah,– terutama pihak yang berwenang dalam bidang keamanan negara secara politis, ekonomi, sosial dan budaya,– untuk benar-benar mencegah faham ataupun yang mengarah pada faham radikalisme itu.

Salah satu contoh nyata ketika Habib Rizieg, lelaki asal Jalan Nyamplungan/ Ampel Surabaya sebagai pimpinan kelompok FPI, beberapa waktu lalu selalu membuat ribut pada kegiatan-kegiatan yang berbau politik, sosial, budaya serta ekonomi masyarakat, saat diminta pertanggung jawabannya oleh Polda Metro Jaya. Namun tahu-tahu dia sudah melarikan diri ke Arab Saudi, kondisi pun menjadi agak tenang.

Suara-suara yang bernada radikalisme pelan-pelan menghilang dari udara Jakarta dan negara kita. Menjadi kenyataaan, bahwa memang Habib Rizieq sudah sangat sesuai untuk tinggal dengan perasaan kerasan di negara leluhurnya itu. Adalah berita palsu alias hoax kalau dia disebut-sebut ingin “pulang” ke Indonesia. Pemerintah hendaknya berusaha agar dia tetap berada di rumahnya di Arab Saudi.

Jangan dipulangkan. Silakan saja berteriak-teriak di rumahnya sendiri di negara itu untuk melepas kebiasaannya. Kalau perlu dia bisa mengritik atau mengutuk secara terbuka pemerintahan dan penguasa Kerajaan Arab Saudi. Sebab, kalaulah dia akan kembali ke Indonesia, sudah pasti bakal berteriak-teriak lagi dan masih mengaku cucu Nabi seperti yang pernah dinyatakannya.

Pendek kata,demi menenteramkan pemikirannya, biarlah tidak dijadikan lagi warga negara kita karena sudah berbulan-bulan “melarikan diri” dari pertangggung jawabannya menjadi saksi atau terdakwa di bidang hukum. Sepatutnya dia bisa menjadi bangga untuk menjadi warga negara di sana, sesuai dengan keturunannya. Barangkali, baginya perlu belajar memelihara onta atau jadi eksportir kurma, minyak wangi Timur Tengah, atau eksportir minyak zaitun dan minyak zamin dan hal-hal yang serba pakai huruf “z” lainnya.

Pada prinsipnya, bahwa radikalisme yang ada di negara kita dan sudah pasti mengarah untuk menjadi teroris, dalam lingkup kecil sampaipun lingkup nasional, adalah melakukan terornya demi kerugian nyawa dan harta benda masyarakat. Berarti, sasarannya adalah mengganggu perekonomian masyarakat, sehingga bakal mengganggu perekonomian negara.

Akan terlebih lagi kalaulah ada orang-orang yang menjadi karyawan BUMN yang berfaham dan bersikap radikal dalam sesuatu aliran agama dan lainnya, maka sudah pasti tujuannya adalah bakal menjadi teroris di lapangan pekerjaaannya itu. Dia atau mereka yang sebulan-bulannya “makan” uang negara lewat upah yang diterimanya, akan tetapi pasti punya niat jahat guna “menghancurkan” pemerintahan kita lewat tempat kerjanya itu. Terlebih, BUMN adalah perusahaan milik negara yang kesemuanya meliputi penghasil produk-produk atau karya yang serba strategis bagi bangsa dan negara.

Jadi, sudah tepat pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir yang tidak memperbolehkan ada karyawan BUMN yang jadi teroris dalam ukuran kecil apalagi ukuran besar. Yang penting, bagaimana secara internal masing-masing instansi maupun perusahaan negara dan swasta, dapat mengamati pemikiran dan tingkah laku radikalisme itu. Bahaya tentang faham tersebut dan bisa berdampak pada teror itu mau tidak mau pada akhirnya bisa mengguncang stabilitas sosial-ekonomi masyarakat itu sudah seharusnya dideteksi sejak awal. (amak syariffudin)