Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Berwisata hal penting melepas penat usai melakukan kegiatan. Namun, bagi yang ingin mencari ketenangan lahir dan batin, berkunjung ke masjid-masjid tua dan bersejarah bisa menjadi pilihan. Salah satunya adalah Masjid Rahmat. Berada di kawasan Kembang Kuning ini merupakan satu dari tiga masjid tertua di Surabaya.

“Masjid ini dibangun saat Raden Rahmat atau biasa disebut Sunan Ampel berdakwah di Kembang Kuning pada abad ke-14,” kata Ketua Yayasan Masjid Rahmad, Mansyur, kepada bisnissurabaya.com, di Surabaya Kamis (14/11).

Tujuan Raden Rahmat, yang juga dijuluki Sunan Ampel ini mendirikan masjid tersebut untuk mempermudah beliau mengumpulkan masyarakat sekitar saat hendak melakukan dakwah. Tempat ibadah yang awalnya terbuat dari gubuk beratapkan jerami ini, memiliki keunikan tersendiri.

Setelah berdiri bertahun-tahun lamanya, Masjid Rahmat, masih menjadi acuan penentu waktu shalat lima waktu di wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Madura, dan sekitarnya. Kumandang adzan masjid ini bisa meraih wilayah luar Surabaya karena memiliki studio radio sendiri.

Radio ini memiliki gelombang siaran AM. Diisi berbagai dakwah dari beberapa ulama dan selalu melantunkan sebuah sya’ir yang diciptakan Gus Nizam (KH Mohammad Nizam As-Shofa) sebelum adzan.

Selain menjadi patokan adzan. Tempat ibadah ini juga mempunyai keunikan lain. Yaitu, arah kiblat masjid ini tepat mengarah Kabah di Mekah, Arab Saudi. Arah kiblat Masjid Rahmat, ini tak pernah bergeser meski sudah dua kali pengukuran arah kiblat.

“Dulu saat Indonesia ramai tentang pergeseran kiblat, banyak masyarakat, pemerintah dan tim pengukur takjub karena hanya masjid ini yang posisinya masih menghadap Ka’bah,” ujar Laili, warga sekitar Masjid Rahmat.

Masjid yang diresmikan Menteri Agama era Presiden Soekarno, Syaifuddin Zuhri. Saat ini memiliki luas mencapai 850 meter persegi yang terdiri dari area parkir, kantor yayasan, dan tempat wudhu. Yang menarik, di depan masjid terdapat sumur tua yang dibuat Raden Rahmad. Masyarakat setempat mempercayai air sumur tersebut dapat menyembuhkan penyakit karena karomahnya Raden Rahmad.

Kemudian, saat ini sumur tersebut digunakan untuk wudhu jamaah yang hendak beribadah. Selain itu, masjid kuno ini setiap bulan Ramadhan menyediakan sekitar 500-600 nasi bungkus untuk menu berbuka bagi yang menjalankan ibadah puasa. “Sebagian nasi merupakan sumbangan dari masyarakat, dan 200 nasi lainnya masak sendiri,” ujar ibu dua anak ini. (fania)