Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Babak baru terjadi dalam persidangan bos media ini. Majelis hakim Pengadilan Tipikor Surabaya menolak eksepsi bos media Surabaya, Istiawan Witjaksono alias TI. Terdakwa TI didakwa atas kasus korupsi pengadaan mesin percetakan senilai Rp 7,3 milliar oleh Kejari Trenggalek.

“Menolak eksepsi terdakwa, dan menyatakan surat dakwaan jaksa penuntut umum/JPU memenuhi syarat formil dan materiil,” kata Ketua Majelis Hakim I Wayan Sosiawan, membacakan amar putusan selanya, Jum’at (15/11).

Dengan ditolaknya eksepsi tersebut, majelis hakim memerintahkan JPU untuk melanjutkan perkara korupsi ini ke pembuktian pokok perkara. Nantinya, hakim akan dapat menilai berdasarkan fakta persidangan. Apakah TI korupsi atau tidak.

“Untuk membuktikan apa yang dilakukan terdakwa agar hakim tidak segan menghukum terdakwa jika bersalah dan tidak ragu membebaskan jika tidak bersalah. Sidang dilanjutkan pada 29 November mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi,”  ujar hakim Wayan.

Sementara, terkait eksepsi terdakwa TI yang menganggap Pengadilan Tipikor tidak berhak mengadili perkaranya karena masuk ranah perdata dinyatakan tidak dapat diterima oleh mejelis hakim

“Pengadilan Tipikor tetap berwenang mengadili perkara ini karena adanya kerugian negara sehingga eksepsi tidak dapat diterima,” terang hakim anggota Lusfiana saat membacakan pertimbangan hukum dalam amar putusan selanya.

Diakhir persidangan, hakim Wayan Sosiawan, juga mengeluarkan penetapan tahanan dari tahanan di rutan menjadi tahanan kota terhadap TI Bin Imam Muslimin. Alasannya, terdakwa kooperatif dalam persidangan, mendapatkan jaminan dari istri dan anak terdakwa.

“Serta ada surat kesehatan dari dokter Rumah Sakit Bhyangkara tanggal 31 Oktober 2019, yang menyatakan terdakwa menderita penyakit diabetes melitus, jantung dan TBC. Sehingga diperlukan perawatan kesehatan yang intensif,” pungkas Wayan.

Diberitakan sebelumnya, kasus ini bermula saat terdakwa TI menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Bangkit Grafika Sejahtera (BGS). Saat menjabat, Ia mengajukan kerjasama pengadaan mesin percetakan Heindelberg Speed Master 102 V tahun 1994 seharga Rp  7,3 miliar yang bersumber dari dana penyertaan modal PD Aneka Usaha sebesar Rp 10,8 miliar.

Namun, mesin percetakan yang dibeli oleh terdakwa TI dari UD Kencana Sari bukanlah mesin percetakan baru, melainkan rekondisi atau dalam keadaan rusak.

Dalam dakwaan juga disebutkan, terdakwa TI tidak menyetorkan modal awal ke perusahaan sebesar Rp 1,7 miliar sebagaimana tertuang dalam perjanjian antara PT BGS dengan PD Aneka Usaha. (ton)