Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Tebarkan salam untuk kebaikan. Setiap agama mempunyai salam bagi pemeluknya. Islam dengan Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Kristen dan Katolik mempunyai salam Shalom Eloyhim, Hindu dengan Om Swastiastu, Budha yaitu Om Namo Budaya, Konghucu Wei de dong tian, dan Aliran Kepercayaan. Pada intinya salam tersebut mengandung arti kedamaian dan kebahagiaan manusia.

Di era pemerintahan Presiden Jokowi, pejabat di pusat dan daerah, setiap acara selalu memulai mengucapkan salam untuk semua penganut agama yang hadir.

Baru-baru ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur/Jatim mengeluarkan taushiyah (himbauan) Nomor 110/MUI/JTM/2019. Secara garis besar isinya meminta pejabat publik tidak perlu mencampuradukkan salam milik agama lain karena bisa mengarah ke sinkritisme (pencampur adukan) agama.

Menyikapi hal tersebut Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) mengeluarkan sikap : Menghormati himbauan tersebut sebagai bagian dari pembelajaran publik. Publik juga perlu dididik bahwa himbuan sifatnya tidak mengikat. Bisa diikuti, bisa tidak.

Namun, dalam semangat kebangsaan dan penghormatan akan perbedaan, himbauan tersebut terasa tidak mendewasakan model keberislaman Indonesia yang tengah dilanda praktek intoleransi tertinggi dalam sejarah Indonesia.

“MUI Jatim secara tidak sadar seperti tengah mengkerdilkan relijiusitas Islam Indonesia,” kata Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), Aan Anshori kepada bisnissurabaya.com, Selasa (12/11).

Jika faktor ibadah adalah kunci yang dijadikan patokan MUI Jatim, maka menjadi penting untuk memperluas cakupan ibadah. Mempersilahkan pemeluk agama lain mengucapkan assalamualaikum atau Muslim(ah) menyatakan salam milik agama lain justru menjadi bagian dari ibadah wathaniyyah dan insaniyyah yang harusnya menjadi arah utama keislaman Indonesia. Dimana MUI Jatim bisa memainkan peranan.

“Kekawatiran bahwa Allah akan murka jika pencampuradukan salam merupakan hal yang berlebihan, karena Allah jelas lebih agung, lebih bijaksana, lebih pemurah, dan lebih toleran, dari yang kita persepsikan,” jelas pria asal Jombang ini.

Apa ada yang lebih diinginkan Allah daripada melihat ciptaannya hidup rukun tanpa kecurigaan dan ketidakdewasaan prasangka?

“Yang paling prinsip, Al Quran tidak pernah memerintahkan atau melarang seseorang menggunakan salam milik agama lain,” tambah Gusdurian ini.

Namun, Al Quran jelas menyatakan setiap orang Islam harus menjadi rahmat bagi alam semesta dengan cara berbuat adil (adl) dan lebih baik (ihsan).

Bagi orang Islam, mengucapkan salam milik agama lain dengan semangat memupuk persaudaraan lebih baik daripada bersikukuh menganggap implementasi agama sendiri pasti lebih ketimbang yang lain.

Karena itu, mengajak setiap orang, termasuk pejabat publik, utamanya yang beragama Islam untuk terus merawat keberagaman Indonesia, salah satunya dengan cara tidak ragu saling menggunakan salam agama lain. (nanang)