Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Indonesia 2019 selesai digelar. Namun, penyelenggaraan Fesyar Indonesia mendapat animo pengunjung yang signifikan. Hal itu, tercermin dari jumlah pengunjung mencapai 31.935 orang, dengan jumlah transaksi sebesar Rp 100,86 miliar yang terdiri dari transaksi booth perbankan sebesar Rp 98,69 Miliar dan booth non perbankan Rp 2,17 miliar.

Sebagai bentuk riil dukungan Fesyar Indonesia 2019 terhadap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, dilaksanakan pula kegiatan business matching yang merupakan ajang pertemuan bisnis antara pelaku UMKM/pemilik project dengan calon investor atau lembaga keuangan bank maupun non bank yang potensial dengan pencapaian sebesar Rp 19,26 triliun.

“Capaian itu meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 7,01 triliun. Fesyar Indonesia di Surabaya juga lebih tinggi dibandingkan dengan Fesyar Regional Sumatera dan Kawasan Timur Indonesia (KTI), yang membukukan transaksi business matching masing-masing sebesar Rp 2,11 triliun dan Rp 2,6 triliun,” kata Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia/PBI Jawa Timur/Jatim, Hermanta.

Menurut dia, ISEF yang selama ini dihelat di Surabaya, kini dialihkan ke ibukota Jakarta guna meningkatkan level sektor ekonomi syariah nasional ke level global untuk mewujudkan Indonesia sebagai rujukan (Center of Excellence) ekonomi syariah dunia dengan mengungsung  “Sinergi Membangun Ekonomi Syariah Indonesia”.

Terdiri dari Sharia Fair diantaranya mencakup fair, edukasi, lomba dan bussiness matching, & Sharia Forum yang mencakup workshop, seminar dan forum bisnis, serta gerakan elektronifikasi rumah ibadah. “Kita pahami bersama konsep ekonomi dan keuangan syariah tidak melulu berfokus pada perolehan profit. Tetapi, juga ada semacam kewajiban untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tercermin dari basis transaksi riil yang mengedepankan keadilan dan keseimbangan bagi semua pihak,” ujar Hermanta.

Selain itu, BI terus mendorong kemudahan bertransaksi melalui pemanfaatan teknologi di sistem pembayaran, seperti QR Code. Dalam hal ini, langkah nyata itu telah dilakukan adalah melakukan sinergi dengan 16 perbankan dalam rangka elektronifikasi 1.651 rumah ibadah.

“Harapannya perluasan pemanfaatan teknologi ini pun dapat mendorong transparansi dan optimalisasi sektor keuangan sosial seperti zakat, infaq, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) sesuai dengan prinsip penggunaannya,” imbuh Harmanta ini.

Besarnya peran perbankan syariah dalam pencapaian transaksi booth dan business matching menunjukkan menguatnya peran perbankan syariah dalam mendukung bergeraknya roda perekonomian. Persiapan penyelenggaraan fesyar yang telah dimulai sejak tiga bulan sebelumnya, memungkinkan terjadinya komitmen bisnis yang bersifat jangka panjang.

Pelaksanaan beberapa event di Fesyar kali ini pun diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkesinambungan dalam mendorong perkembangan eksyar di Indonesia, khususnya di Jatim.

Kemudian, beberapa pihak berkomitmen terus bersinergi dan berkolaborasi dalam mengawal pengembangan eksyar ke depan. “Ttarget jangka pendeknya adalah meningkatkan kesiapan pelaku industri halal di Jatim, khususnya dalam acara Halal Summit 2020 agar mampu diterima di pasar global,” jelas Hermanta. (ton)