Surabaya, (bisnissurabaya.com)- “Kalau kepada yang hidup protes kami tidak didengar, hari ini kami curhat kepada Pahlawan yang telah mendahului kita,” begitu curahan hati Sekretaris Perkumpulan Penghuni Tanah Surat Ijo Surabaya (P2TSIS), Tuk Sutantyo, kepada bisnissurabaya.com, Minggu (10/11). Permasalahan tanah surat ijo di Surabaya sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu, khususnya sejak era Walikota Surabaya dijabat almarhum H Soenarto Sumoprawiro.

Pemegang surat ijo merasa Pemerintah Kota/Pemkot Surabaya sudah berlaku tidak adil bahkan sewenang- wenang, karena mereka dibebani 2 pembayaran atas 1 obyek tanah yang sama. Yaitu, Pajak Bumi Bangunan (PBB) dan Retribusi Ijin Pemakaian Tanah (IPT). Sementara, Pemkot Surabaya bersikukuh dasar hukum mereka memungut retribusi atas pemakaian tanah adalah Peraturan Daerah Kota Surabaya Tahun 2005.

Berbagai musyawarah dan upaya hukum dilakukan oleh berbagai pihak. Mulai mediasi di DPRD hingga penyelesaian di Komisi Informasi Jawa Timur (Jatim). Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil,  karena Pemkot Surabaya tidak bergeming dan tetap bersikukuh dengan pendiriannya.

Tepat di Hari Pahlawan (10/11), ribuan warga yang tergabung di P2TSIS dari berbagai wilayah di Surabaya, melakukan kegiatan tabur bunga dan mendengarkan orasi dari beberapa tokoh penggiat surat ijo di Taman Makam Pahlawan (TMP) Mayjen Sungkono.

“Di TMP ini, kami ingin mengingatkan  bahwa para pahlawan telah gugur untuk merebut tanah air. Karena itu, jangan ada yang berusaha untuk menguasainya secara semena-mena dan tanpa hak, ” jelas Tuk Artantyo.

Berbagai spanduk bernada protes yang dibawa peziarah dibentangkan setelah orasi disampaikan Ketua P2TSIS, Endung Sutrisno. “Ada spanduk yang dibawa teman- teman berisi permintaan tolong kepada Presiden, semoga Presiden Jokowi bisa menolong kami,” tambah laki- laki yang berlatar belakang akuntan ini.

Hadir dalam kegiatan tabur bunga ini tokoh-tokoh penggiat surat ijo. Antara lain, Ketua P2TSIS, Endung Sutrisno, Wakil Ketua, Sekretaris, Tuk Sutantyo, Farah Tamalia, Hason Sitorus, Yoshua Budianto dan lain-lain. (nanang)