Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Warga Surabaya dimanjakan sejuta wisata menarik. Salah satunya, adalah Hutan Bambu. Tempat ini merupakan wisata yang sengaja dibuat untuk mendapatkan daya tarik tersendiri bagi pecinta wisata.

Keindahan Hutan Bambu Keputih ini tak perlu diragukan lagi. Bisa dikatakan mirip dengan Hutan Bambu Sagano di Jepang. Jadi, bagi warga sekitar yang ingin mendapatkan foto instagramable tak perlu jauh-jauh ke Negeri Sakura.

Yang menarik, di dekat Hutan Bambu ini terdapat Taman Sakura atau disebut Taman Harmoni Surabaya. Di sini banyak bunga bajareja yang mirip dengan bunga sakura, yang akan menambah suasana seperti di Jepang.

Wisata yang dikelola Pemerintah Kota/Pemkot Surabaya ini, tidak dipungut beaya tiket masuk atau gratis. Tetapi, pengunjung akan diminta uang parkir yang cukup terjangkau. Yakni, Rp 2.000 untuk sepeda motor, dan Rp 5.000 untuk mobil.

Hutan bambu memiliki akses yang cukup mudah untuk menuju pusat wisata. Karena, dari tempat parkir pengunjung akan melewati Taman Sakura, yang menyediakan berbagai wahana bermain. Seperti, ayunan, perosotan dan lainnya.

Tak hanya memanjakan anak- anak. Lansia yang berkunjung ke sini dapat menikmati fasilitas batu refleksi. Yaitu, batu kecil atau kerikil yang ditata rapi di jalanan. Pengunjung dapat berjalan di atas batu sekaligus terapi kaki.

Hutan bambu mulai buka pukul 06.00 – 17.00 WIB dan jam kunjungan tertinggi mulai pukul 14.00 WIB. Karena selain cuaca tidak terlalu panas, Tugu Air Mancur dinyalakan pada sore dan malam hari. Liburan akan terasa sangat menyenangkan saat melihat indahnya air mancur yang membuat pikiran menjadi fresh.

“Saya suka datang ke hutan ini, selain pemandangan yang asri, tempat ini cocok untuk berlibur bersama keluarga dan teman-teman,” kata salah satu pengunjung, Dini, kepada bisnissurabaya.com Kamis (7/11).

Hutan yang dekat dengan Terminal Keputih ini memiliki pemandangan yang sangat berbeda pada musim hujan dan kemarau. Karena, pada musim kemarau akan terlihat gundukan daun bambu yang mengering. Tetapi, saat musim hujan, gundukan dedaunan itu tak akan terlihat. Sebaiknya, pengunjung yang datang memakai sepatu atau alas kaki yang tertutup, untuk menghindari bulu gatal dari daun bambu. (fania)