Pasar ekspor ikan lorju masih terbuka lebar. Apalagi, disuport Dinas Kelautan dan Perikatan/DKP Jawa Timur/Jatim. Hanya saja, yang harus diperhatikan pihak pelaku usaha adalah kwalitas dan packing barang yang akan diekspor harus diperhatikan.

Penegasan itu dikemukakan Technical Advisor Indolezat, Totok Wahyudi, ketika menjawab pertanyaan peserta dari Pamekasan dalam diskusi yang bertajuk ‘Bayers Meet Selers’ yang digelar DKP Jatim di Surabaya Selasa (5/11). ‘’Lorju pasar eksport masih terbuka lebar. Untuk bapak dan ibu mari tingkatkan kwalitas dan packing agar pasar luar negeri puas,’’ kata Totok, yang juga menjabat marketing eksport ini.

Ia menjelaskan divinisi eksport adalah proses transportasi barang atau komoditas dari satu negara ke negara lain. Karena itu, diperlukan legalitas perusahaan, izin eksport, izin khusus (eksport license), inconterm, dokumen, jangka waktu pembayaran (term of payment), packing dan regulasi import. Ia memberi contoh, produk UKM sambal klotok dari Ning Niniek sangat disukai orang luar negeri.

Terutama dari Taiwan dan Hongkong. ‘’Saya baru ekspor sambal klotok 1.000 -1.500 botol ke Taiwan dan Hongkong,’’ ujarnya. Karena itu, Totok Wahyudi, hanya bisa koar-koar untuk memasarkan produk UKM binaan DKP Jatim ke luar negeri. Pokoknya, eksport itu mudah sepanjang kwalitas produk dan packing nya ditingkatkan.

Hal senada dikemukakan Ayu Arifiani, Koordinator Rumah Krearif Sidoarjo. Ia menyatakan, kehadiran rumah krartif ini sesuai program Kementerian BUMN yang bertujuan membina pelaku UMKM. ‘’Ada 66.000 UMKM yang tersebar di Malang, Pasuruan, Sidoarjo dan Surabaya,’’ kata Ayu. BRI memiliki 51 rumah kreatif.

Di Malang ada Rumah Kreatif, Pasuruan rumah kreatifnya ada di PLN, di Surabaya ada di Bank Mandiri. ‘’Pokoknya, setiap BUMN ada rumah kreatif,’’ tambah Ayu, yang juga karyawan BRI ini sambil menjelaskan pemerintah memiliki keinginan agar UMKM naik kelas. Sementara, Kepala Seksi Akses Pasar, Promosi dan Logistik, Bidang Pengolahan dan Pemasaran Produk Kelautan dan Perikanan, DKP Jatim, Farida, mengatakan, Forum Buyers Meet Sellers for Fish and Marine Products mengundang banyak pelaku industri dengan mempertemukan UKM dengan calon pembeli yang terdiri dari beberapa Asosiasi.

Seperti KADIN, HIPMI, APJI, IWAPI, PHRI, FORKAS. Mengingat pentingnya perkembangan Industri untuk perekonomian, forum ini mengangkat tema “Penguatan potensi pasar ekspor dan lokal bagi UMKM” yang  diikuti lebih dari 100 peserta terdiri dari 50 seller dan 50 buyer usaha kecil, menengah dan besar. UKM binaan DKP yang terdiri dari beberapa Kabupaten seperti Lamongan, Sampang, Tuban, Trenggalek, Kota dan Kabupaten Malang, Pamekasan, Kota dan Kabupaten Probolinggo, Sidoarjo, Pasuruan, Jember juga turut meramaikan acara business matching ini. Sehingga dapat memperkenalkan produk mereka ke khalayak yang lebih luas terutama kepada calon pembeli.

Menurut dia, acara ini diadakan karena kesadaran pemerintah terhadap susah nya akses pasar yang dapat dijangkau. Sehingga, business matching yang berjudul Buyers Meet Sellers, yakni forum yang mempertemukan antara Seller dengan Buyer ini dalam rangka memfasilitasi para pelaku usaha untuk dapat membuat kontrak langsung dengan pembeli demi mewujudkan program Supply Demand Channel dalam Jatim Agro yang digagas oleh Gubernur Jawa Timur melalui program Nawa Bhakti Satya.

Dengan mendorong salah satu sektor Agro yaitu Perikanan serta olahannya, maka kegiatan ini diharapkan dapat memperluas jaringan pemasaran para pelaku usaha dibidang Kelautan dan Perikanan khususnya serta dapat meningkatkan perekonomian dan mensejahterakan masyarakat  Jatim. (bw)