Gresik, (bisnissurabaya.com)- Petani garam di wilayah Gresik Pantai Utara/Pantura mengeluh. Pasalnya  harga garam di pasaran anjlok. Harga garam krosok petani saat ini turun drastis, hanya Rp 550 – Rp 600 per kilogramnya. Dari harga jual sebesar  itu petani hanya mendapat sisa hasil usaha yang rendah.

Meski saat ini petani garam di wilayah Manyar Gresik, sedang panen garam. Harga anjlok mulai dirasakan sejak pertengahan tahun ini. Padahal pada tahun sebelumnya harga garam lumayan bagus, mencapai Rp 1.100 per kilogramnya.

Petani Garam di Kawasan Manyar, Mulyono, mengatakan dampak anjloknya harga garam juga berimbas pada upah yang didapat petani atau penggarap lahan garam. Artinya, harga hasil panen dikurangi beaya produksi hasilnya tak berapa besar.

Apalagi, sistem yang berlangsung dewasa ini, petani mendapat pinjaman diawal penggarapan. Petani garam dapat pinjaman uang muka lebih dulu, sekitar  Rp 500.000 dan dibayar degan nilai harga garam, ketika panen. “Kami  ingin supaya harga garam kembali stabil, agar tidak merugi,” harap Mulyono.

Berdasarkan data terakhir ini, di Manyar ada sekitar 50 hektar lahan yang digarap petani garam. Dengan rincian 30 hektar tambak geomembrane. Sedangkan 220 hektar tambak tradisional. Rata-rata per hektar tambak bisa menghasilkan 1.500 ton garam. Total garam per tahun di Gresik sekali panen bisa menghasilkan 5.000 hingga 7.500 ton garam, selama musim panen.

Sementara itu Ipul (35), salah seorang petani garam lainnya, mengungkapkan bahwa jerih payah petani garam saat ini seolah tidak berharga. Sebab, harga garam pada panen pertama menurun. ”Panen kedua nanti, saya tidak tahu. Semoga harganya bisa lebih baik,” harap lelaki yang sudah 15 tahun menjadi petani garam di area Pertambakan Desa Sukomulyo, Manyar.

Namun, petani garam asal Madura ini tetap bersyukur. Sebab, kualitas garam yang dihasilkan masih lebih baik. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik Agus Budiono, mengakui, harga garam petani saat ini anjlok.

”Harga pasar jatuh. Karena impor garam terlalu besar. Jadi ada ketidakseimbangan,” ujar Agus di Gresik, Kamis (31/10). Menurut Agus, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Sebab, harga ditentukan kondisi atau hukum pasar. Yakni supply and demand. ”Panen raya, harga jatuh itu hukum ekonomi,” tegasnya. (sam)