Manfaatkan Hutan Kosong demi Produk Bulan

26

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Ada dua hal besar yang bertolak belakang dalam sektor penyediaan lahan di pulau Jawa yang terjadi dalam agrobisnis. Yang pertama, operasional industri berupa pabrik-pabrik gula yang sering kekurangan lahan kebun tebu berikut rendemen (kandungan gula) pada tebu-tebu yang ditanam, sehingga sering tidak tercapai target produksi yang diharapkan. Kedua, industry kehutanan yang dikelola oleh BUMN Perum Perhutani yang terbagi atas tiga wilayah, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Perusahaan Negara PT Perkebunan Negara (PTPN) dan PT Perkebunan Nusantara yang di era Hindia Belanda terdiri dari perusahaan-perusahaan swasta itu mempunyai lahan-lahan tetap ataupun milik sendiri kebun-kebun tebu untuk supply pabrik-pabrik gula miliknya. Provinsi Jawa Timur yang paling luas lahan kebun tebunya dan jumlah pabrik gulanya. Pada era RI, jumlah lahan itu menyusut cukup luas dan pabrik gulanya tinggal puluhan saja.

Sisanya ditutup atau hancur dibumi hanguskan sewaktu Perang Kemerdekaan I dan II dulu.
Hutan yang dikelola Perum Perhutani, punya kisah lain lagi. Sebelum terjadinya Era Reformasi (1989), hutan kita,– terutama hutan pohon jati dan sanakeling, masih utuh. Lalu tiba Era Reformasi dan hutan milik Negara itu dianggap seolah milik rakyat semua. Segera saja terjadi pembalakan besar-besaran. Sasarannya pohon jati dan sanakeling. Tidak ada yang berani melarang, karena banyak di belakang layar pelaku pembalakan itu orang-orang berkuasa setempat. Yang jelas, hutan jati menjadi gundul. Pohon-pohon ukuran kecil yang terlanjur dibabat dibiarkan menjadi gelondongan kering bertahun-tahun kemudian.

Bersukur di beberapa daerah yang mempunyai kawasan hutan jati/sanakeling ada masyarakat yang tidak ikut-ikutan melakukan pembalakan hutan ataupun masih bias dicegah oleh apparat keamanan Perhutani ataupun Kepolisian. Di kawasan hutan kabupaten Madiun dan kabupaten Nganjuk dan kabupaten Bojonegoro yang terkenal dengan hutan jatinya. Pembalakan itu banyak menjadikan Kawasan hutan menjadi gundul. Beberapa petani memanfaatkan membuat ladang. Tetapi Perum Perhutani yang memiliki lahan itu tidak mendapatkan hasil apapun.

Ketika pimpinan Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur (dulu Perum Perhutani Unit II Jatim) dengan Direktur PT Perkebunan Nusantara X Jatim secara bersama memanfaatkan lahan kosong pohon hutan di Jatim sejak tahun ini untuk mengelola pengerjaan lahan Perhutani guna penanaman agroforestry, sebagai keputusan yang tepat. dan tebu seluas 52.661,5 hektare dan telah disetujui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017 lalu.

Proyek tersebut diawali di lahan Perhutani di desa Jelu kecamatan Ngasem kabupaten Bojonegoro seluas 52,3 ha pada awal Oktober lalu. Kemudian dicoba di kabupaten Jombang seluas 40.275 ha yang tersebar di 3 petak di Kawasan RPH Ngujung, BKPH Ngujung Barat dan KPH Jombang serta Kebun Sanggrahan dusun Sanggrahan, kabupaten Gondang, Nganjuk. Menurut Direktur Operasional PTP Nusantara X, Toharisman (31/10) yang memimpin proyek penanaman tebu itu, lahan agroforestry di Nganjuk tersebut ditanami varietas baru tebu unggul dengan potensi produksi 89 ton perhektare dan rendemennya 9 persen. “Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program BUMN, sinergi agroforestry tebu musim giling 2019 PG Lestari (Jombang) menorehkan catatan dengan hasil produksi sebesar 72,2 ton per hectare dan rendemennya 8,64 persen.

Ditinjau dari pemanfaatan lahan saja, keberadaan “lahan tidur” akibat pembalakan dulu itu sudah sangat berarti. Terlebih lagi, dengan mengolah tanah Perhutani tersebut, lahan-lahan hutan jati yang biasanya kering, bisa dibasahi air melalui saluran irigasi untuk tebu. Pengerjaan pun bias praktis secara masinal dengan menggunakan alat-alat berat bulldozer untjk membuat parit, mengolah tanah. Hanya penanaman batang bibit tebu saja yang masih perlu dikerjakan oleh manusia. Yang paling utama, keberadaaan lahan tebu tersedia secara ajek. Sebab, sampai kini banyak tergantung pada lahan tegu-rakyat-intensifikasi (TRI) yang kadangkala baik volume produknya apalagi rendemennya tidak ajek.
Barangkali sudah saatnya PTP-PTP melakukan kerja sama semacam itu, seperti untuk kawqsan yang ada hutan yang terkena dampak pembalakan seperti di kabupaten-kabupaten Jember, Besuki, Situbondo dan Lumajang. (amak syariffudin)