Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Jumlah industri di Jawa Timur/Jatim sebanyak 817.000. Dari jumlah itu, sekitar 67 persen adalah industri agro. Sedangkan sisanya adalah non agro.  Karena itu, ada jok dari Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, yang menyatakan, petik, olah, kemas dan jual perlu ditindaklanjuti. ‘’Sebab, istilah petik dan olah pada industri agro,’’ kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Drajat Irawan, SE., MT., ketika berbicara dalam ‘Forum Komunikasi/Forkom & Temu Bisnis Industri berbasis Agro Jatim’ di Surabaya pekan lalu.

Menurut dia, industri agro membuka lapangan kerja, Industri juga memberikan nilai tambah kepada masyarakat, dan menjadi salah satu faktor yang mampu mengurangi tingkat kemiskinan di masyarakat. Selain itu Industri Agro Jatim menyumbang 20 persen PDB yang jumlahnya Rp 20 triliun,” jelasnya. Karena itu, dalam Forkom dan Temu Bisnis Industri Berbasis Agro Jatim ini banyak pelaku industri agro yang terdiri dari OPD Provinsi Jatim, asosiasi terkait industri agro, perbankan, serta Dinas Perindustrian Kabupaten atau kota, Perusahaan Industri & IKM, Kepala Bidang/UPT Disperindag Jatim untuk eksplorasi permasalahan, tantangan, peluang bisnis, dan strategi pengembangan industri agro Jatim.

Bahkan, kata dia, dalam pameran industri agro di Nusa Tenggara Barat/NTB omzet Jatim mencapai Rp 603 miliar. Sedangkan tahun sebelumnya di Jakarta dalam pameran yang sama tembus Rp 700 miliar dan saat di Sulawesi Selatan/Sulsel sekitar Rp 250 miliar. ‘’Yang menggembirakan, pertumbuhan industri di Jatim mencapai 7,3 persen diatas pertumbuhan nasional yang hanya 3,4 persen,’’ kata Drajat Irawan.

Kepala Bidang Industri Agro Disperindag Jawa Timur Bapak Heri Wiriantoro, S.T, MMT., menambahkan, sektor industri pengolahan pada semester I tahun 2019 tumbuh sebesar 7,05 persen, masih banyak bergantung pada bahan baku impor. Impor bahan baku sampai dengan Agustus 2019 mencapai 78,09 persen dari total nilai impor.

Untuk itu, kata dia, upaya subtitusi bahan baku impor harus terus ditingkatkan melalui optimalisasi potensi di masing-masing daerah. Tantangan lain adalah begitu masif dan cepatnya perkembangan ekonomi digital. Saat ini memasuki era digital yang menuntut otomatisasi, digitalisasi, dan konektifitas di berbagai sektor usaha, terlebih di sektor usaha industri dan perdagangan.

Ekonomi digital ini harus diarahkan secara tepat agar mendorong penguatan industri berbahan baku lokal. Industri 4.0 dengan demikian tidak semata-mata dimaknai sebagai digitalisasi dan efisiensi proses produksi, tetapi juga optimalisasi penggunaan bahan baku lokal untuk mendukung subtitusi impor.

Dalam upaya mempercepat proses industrialisasi untuk mendukung pembangunan ekonomi di Jatim sekaligus mengantisipasi dampak negatif globalisasi dan liberalisasi ekonomi dunia dan perkembangan di masa yang akan datang, menurut dia, diperlukan suatu arahan dan kebijakan yang jelas. Hal ini didukung berbagai kebijakan yang telah disiapkan pemerintah untuk eksplorasi peluang bisnis dan strategi pengembangan industri agro. (nanang)