Smelter itu Bakal Membuat Gresik ‘Kaya’

562

Surabaya, (binsnissurabaya) – PERTENGAHAN Juni lalu, ruang Opini memuat bakal dibangunnya pabrik smelter hasil tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) di kota Gresik (saya beri judul: Gresik Tambah Smelter Tembaga Pura). Kota Kabupaten yang tidak besar itu memang sudah padat oleh kawasan dan bangunan industri bertaraf nasional dan internasional. Dari semen, petrokimia dan lain-lain bahan untuk pembangunan fisik apa saja di dalam negeri maupun ekspor. Tetapi pada saat Opini itu saya tulis, belum jelas pembangunan smelter (peleburan materi tambang berat) tersebut bakal menghasilkan apa saja dan berapa volume produk-produknya.

Baru jelas ketika Svp Corporate Secretary PT Inalum, Rendi A. Witular,  di Jakarta (28/10) menguraikan rencana pembangunan smelter itu yang diawali pada kuartal kedua tahun 2020 depan. Sekarang masih dilakukan pengurukan dan pemadatan tanah, karena lokasi pabrik raksasa itu banyak berada di atas bekas pertambakan dan rawa-rawa Gresik.  Katanya, salah satu produknya yang berupa produk hilir di antaranya 550.000 ton /tahun katoda tembaga, 1,3 juta ton terak, 150.000 ton gypsum dan 6000 ton lumpur qanoda per tahunnya. Karena produk-produk sampingan itu merupakan bahan-bahan potensial untuk perindustrian dan perumahan, sehingga ketika PTFI dulu pernah mengajukan permohonan kepada pemerintah agar smelter di bangun di luar negeri,– terutama di negara penerima produk PTFI,– langsung saja ditolak oleh pemerintah. Smelter PTFI harus dibangun di Indonesia dan berada di lingkungan yang mudah dicapai oleh mereka yang membutuhkannya. Begitulah akhirnya pemerintah memilih kawasan Gresik yang memang merupakan “kota industri”. Infrastruktur sudah tersiapkan, termasuk untuk keperluan tenaga listrik, pelabuhan laut karena berada di tepi laut (mulut bagian barat Selat Madura), tidak jauh dari Pelabuhan Internasional Tanjung Perak atau akan membuat pelabuhan khusus untuk bongkar-muat bahan dari PTFI di Timika (Papua) maupun untuk produk-produk di pasaran dalam maupun luar negeri, serta terhubung dengan jalan tol antar pulau Jawa.  Lokasi tepatnya di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), suatu kawasan industri (industrial estate) milik BUMN di bawah Pemerintah Pusat.

Apa yang disebutkan sebagai produk-produk smelter sebagaimana tertulis di atas, yang menjadi produk utama smelter itu sebenarnya bernilai sangat tinggi dan menjadikan proyek itu sebagai industri strategis.. Yakni 30-60 ton emas per tahunnya, di mana 10 ton emas itu secara ajek merupakan konsumsi di dalam negeri. Sisanya akan diekspor. Selain itu juga dihasilkan 240 ton logam perak.

Jadi, dalam era awal Abad 21 ini, kabupaten Gresik yang dulu pernah ditetapkan sebagai salah satu “gerbang” kota Surabaya (Gerbang Kertosusila = Gersik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya ,Sidoarjo dan Lamongan) , akan lebih dipenuhi industri-industri padat teknologi dan padat karya. Yang jelas, produk emas dan perak hasil smelter itu tentu saja tidak disebar-sebar buat penduduk  sekitar. Itu adalah milik negara. Tetapi, dalam sejarah sejak dulu, baru pertama kali ini dikenal emas diproduksi menjadi bahan jadi di Jawa Timur, yakni di Gresik!

Akan tetapi tidak akan bisa dihindarkan, bahwa kota atau kabupaten itu bakal kebanjiran manusia tenaga kerja yang berkaitan dengan smelter PTFI itu. Bisa ribuan orang. Bakal bisa menjadi hal yang ruwet dalam masalah kependudukan dan pemukiman. Tidak ada salahnya, apabila pihak Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Jatim dan apalagi kabupaten Gresik, kota Surabaya dan mungkin juga terikut kabupaten Lamongan, bersiap diri merencanakan pengaturan permasalahan sosial-ekonomi dengan munculnya dampak keberadaan smelter itu. Terutama perencanaan pengaturan pemukiman secara teratur agar tidak muncul pemukiman kumuh. Kemudian masalah lingkungan hidup, seperti perlunya penanaman pepohonan di kawasan pemukiman dan petamanan untuk dijadikan “paru-paru” menghadapi polusi udara dan limbah peleburan dari smelter itu. Terutama terhadap kehidupan pertambakan yang masih ada dan kondisi laut yang bakal jadi lokasi bongkar-muat untuk produk smelter bersangkutan.  Tidaklah salah apabila kota dan kabupaten Gresik bisa dikatakan  menambah “kekayaaannya” denan industry berat berupa smelter PTFI itu. Tidak akan terhindarkan banyaknya tenaga ahli asing maupun tamu-tamu asing dalam urusan dengan industri tersebut berikut urusan produknya.

Masalahnya, dapatkah terserap tenaga kerja yang diperlukan oleh industri strategis itu para usia tenaga kerja yang menjadi warga provinsi kita ini? (amak syariffudin)