Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Surabaya dibawah Walikota Tri Rismaharini, adalah kota yang kemajuannya melesat jauh meninggalkan kota lain di Indonesia. Berbagai penghargaan dari nasional maupun internasional berderet panjang dari tahun ke tahun.

Sejak dipimpin Dr Ir Tri Rismaharini, MT, walikota perempuan pertama di Surabaya tersebut, masyarakat merasakan banyak perubahan yang membawa manfaat luas. Baik fisik maupun non fisik. Tak ayal, banyak arek Suroboyo yang tetap menjadikan patron Risma, untuk sosok calon walikota Surabaya kedepan. Bahkan, jauh dari tanah Papua terdengar permintaaan tulus dari ibu-ibu yang pernah mengikuti program Pahlawan Ekonomi yang digagas Risma.

“Kami ingin Surabaya tetap punya walikota seperti Mama Risma”. Nama, besar Risma beserta program-program yang sukses dijalankan selama menjabat walikota di Surabaya membawa suasana kebatinan tersendiri bagi masyarakat Surabaya, terlebih untuk calon walikota yang hendak berlaga saat Risma, resmi lengser keprabon kelak.

Lia Istifhama, arek Suroboyo kelahiran Jemursari 35 tahun yang lalu, adalah salah satu sosok politisi muda yang merasa tertantang untuk berlaga di ajang pemilihan Walikota 2020 nanti. Perempuan cantik berhijab mantan semifinalis Cak dan Ning ini memang bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang pendidik dibeberapa kampus, dan pernah berkecimpung dibeberapa organisasi saat menjadi mahasiswa seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

“Saya memang bukan siapa-siapa, tapi saya punya semangat dan tekad yang kuat untuk mengabdi bagi Surabaya,” kata bakal calon Walikota Surabaya dari PDI Perjuangan, Lia Istifhama, kepada bisnissurabaya.com, di Surabaya Selasa (29/10).

Lia, mewarisi naluri politik dari ayahnya Maskur Hasyim Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jatim, dan Gubernur Jatim, Hj Khofifah Indar Parawansa, yang juga bibinya. Berbagai pemikiran dan gagasan untuk pembangunan Surabaya selama 5 tahun kedepan, telah dikongkretkan dalam program yang dinamai Nawa Tirta.

“Nawa itu 9, dan tirta itu artinya air. Jadi diharapkan program nawatirta bisa dirasakan masyarakat dibawah, seperti sifat air yang selalu mengarah ke bawah,” jelas mantan pengurus Karang Taruna Kecamatan Wonocolo ini. Kedekatan Lia, terhadap berbagai kalangan seperti ibu-ibu, karang taruna mahasiswa, santri, buruh, pelaku Usaha Kecil Menengah Mikro (UMKM) merupakan modal dasar tersendiri bagi dirinya saat pemilihan walikota kelak.

Kedekatan dengan ibu-ibu ditunjukan dengan menghadiri berbagai acara senam dan jalan sehat,  dengan mahasiswa dibuktikan  menjadi pembicara dalam berbagai diskusi, sedangkan keberpihakan kepada pelaku UMKM dibuktikan dengan menggagas acara seminar kesiapan UMKM dalam menghadapi revolusi industri 4.0 d Maspion Square beberapa waktu yang lalu dengan menghadirkan langsung 2 kepala dinas  di Jatim yang membidangi, yaitu Kepala Dinas Koperasi,  dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

“Menjadi walikota Surabaya, harus bisa  gotong royong dan menjalin sinergi dengan semua pihak, karena surabaya ini gudangnya para ahli di berbagai  bidang,” tambah mahasiswi strata 3 ini. Dengan menjalin sinergi yang baik, diharapkan bisa menyelesaikan masalah krusial di Surabaya seperti jalinan  proyek utilitas yang melibatkan banyak pihak, pengangkatan PLT yang terus menerus, dan lain-lain.

Kelak jika terpilih, Lia, ingin menjadi walikota yang proporsional dalam menjalankan tugasnya. Baik sebagai pemimpin rakyat maupun sebagai bawahan dan kepanjangan tangan dari pemerintah pusat. Hal ini penting supaya dia tidak keblabasan mengambil sikap yang asal beda dengan pusat, untuk mencari popularitas diri sendiri. (nanang)