Megawati : Presiden Jokowi Memuliakan Kaum Difabel

146

Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Berbicara kaum disabilitas, yang terbayang adalah orang yang kurang beruntung. Sebab, ada fisik, mental  maupun, motorik. Namun, apabila mencermati lebih jauh, sesungguhnya kaum disabilitas memiliki kelebihan dengan keterbatasan yang dimiliki. Contohnya, seorang yang memiliki keterbatasan fisik tidak punya tangan, tapi mampu melukis dengan menggunakan kakinya.

Karena itu kaum disabilitas kerap disebut sebagai kaum difabel (Difirrent Asabelity) yang artinya memiliki kelebihan yang berbeda. “Difable itu bukan manusia normal, tetapi mereka termasuk orang yang super normal. Karena bisa melakukan apa aja dengan kondisi yang tidak biasa,” kata Ketua Forum Divabel (Fordiva), Megawati, kepada bisnissurabaya.com, di Surabaya Senin (28/10).

Manusia super normal tersebut sering melakukan aktivitas dengan energi dua kali lipat untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Baik kuat hati maupun pikirannya. Kaum difabel banyak yang sukses diberbagai bidang diantaranya atlet. Contohnya, Ni Nengah Widiasih, atlet power lifting yang meraih emas di Asean Paragames 2018 di Malaysia dan perunggu di paralympic Brazil.

Jendi Panggahan, atlet renang memenangkan emas Asian Paragames 2018 di Jakarta. Kemudian, ada Dimas Prasetyo, atlet bulu tangkis meraih tiga emas diajang Olympic World Games 2015 di Amerika Serikat/AS. Lalu, apakah ada kaum difabel yang menjadi pejabat pemerintah ? Sebelum era pemerintahan sebelum Presiden Jokowi, hal tersebut masih sulit ditemukan.

Namun, sejak era pemerintahan Presiden Jokowi, kaum difabel mulai diberi peran. Hal ini ditandai dengan dilantiknya Evi Rahmi Kasim, sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial pada Agustus kemarin.

Bukan hanya itu, pada pembentukan Kabinet Indonesia Maju 2019-2024, Presiden Jokowi mengangkat Surya Tjandra, yang dari kalangan difabel sebagai Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang. Presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut memutuskan mengangkat Surya Tjandra, karena politisi Partai Solidaritas Indonesia/PSI memiliki rekam jejak pendidikan yang bagus. Alumni SMAN 68 Jakarta, S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia, S2 di Universitas Warwyck Inggris, dan S3 di Universitas Leiden Belanda.

Walau mengalami disabilitas daksa akibat polio sejak usia 6 bulan, namun keterbatasan fisik yang dimiliki tidak menjadi halangan. Dia berhasil menjadi advokat yang banyak membela kaum buruh. Prestasinya yang lain adalah berhasil memenangkan gugatan melawan pemerintah dalam sengketa sistem jaminan sosial nasional di Pengadilan Negeri/PN Jakarta Pusat, serta berhasil menjadi 10 besar calon Komisi Pemberantasan Korupsi/KPK.

“Sungguh apa yang dilakukan Presiden Jokowi begitu membanggakan, karena baru kali ini ada Presiden yang memuliakan kaum difabel dengan menjadikan  sebagai wakil menteri,” jelas perempun cantik yang berprofesi sebagai psikolog ini.

Menjelang hari difabel, keinginan terbesar Fordiva adalah akses yang seluas-luasnya dalam lapangan kerja serta kesempatan untuk berekspresi disegala bidang. Karena itu dalam waktu dekat akan bekerjasama dengan beberapa hotel di Surabaya untuk mengadakan kegiatan job market fair dan audisi multi talent bagi kaum difabel.

“Kebijakan yang sudah diambil Presiden Jokowi semoga juga ditiru pejabat di daerah,” tambah perempuan yang akrab disapa Jeng Ratu ini. (nanang)