Gresik, (bisnissurabaya.com)- Upacara hari Sumpah Pemuda di tempat ini agak berbeda. Pemimpin upacara, petugas pengibar bendera dalam memberi aba-aba tidak hanya dengan lisan tetapi diiringi dengan gerakan tubuh lain atau isyarat. Namun demikian, peserta upacara juga bisa mengikuti dengan baik dan lancar.

Sejumlah siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Kemala Bhayangkari 2 Gresik mengelar upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 dengan bahasa isyarat di halaman sekolah, Minggu (27/10). Total sebanyak 61 siswa difabel, seperti tuna netra, tuna rungu, tuna wicara dan tuna grahita   tampak khidmat mengikuti jalannya upacara. Bertindak sebagai  inspektur upacara Ketua DPRD Gresik Fandi Akhmad Yani.

Saat pembacaan teks Pancasila dan Sumpah Pemuda, mereka   mengikuti dengan bahasa lesan dan gerakan isyarat. Begitu pula saat pengibaran bendera merah putih yang diiringi lagu Indonesia Raya mereka juga mengikuti dg lesan menggunakan bahasa isyarat.

“Saya merasa trenyuh mengikuti upacara bareng adik-adik difabel ini. Saya berharap mereka bisa merasakan semangat Sumpah Pemuda. Dan semoga nantinya mereka memiliki masa depan yang cerah,” ungkap Ketua DPRD Gresik Fandi Akhmad Yani, seusai upacara.

Pria yang akrab disapa Gus Yani ini saat memberi amanah juga mengajak semua siswa untuk menjadikan momentum peringatan Sumpah Pemuda sebagai ajang berkarya. “Mari bersama-sama membangun Gresik sesuai dengan keterampilan dan keahlian yang dimiliki. Adik-adik semua  juga punya potensi,”  ucap Gus Yani.

Uniknya saat amanah dari inspektur upacara, petuah yang disampaikan  diterjemahkan oleh salah seorang guru dengan bahasa isyarat seperti pembacaan berita di televisi. Guru itu bernama Rina Dwi Kurniawati mengampu kelas Tuna Rungu. Usai melaksanakan upacara, Gus Yani dan Waka Polres Gresik Kompol Dhyno Indra Setyadi didampingi Kepala SLB  Kemala Bhayangkari 2 Gresik Dede Idawati meninjau workshop pelatihan tata boga (bagi siswi) dan konveksi (bagi siswa).

Di tempat itu para siswa SLB berbagai ketrampilan. Seperti dilatih membuat keripik stik krispi dan sablon kaos. “Melihat keterampilan mereka saat membuat keripik dan sablon kaos, sebenarnya mereka memiliki SDM yang unggul karena memiliki skil yang luar biasa. Bahkan, hasil produksi mereka ternyata sudah dipasarkan ke beberapa daerah,” ujar Gus Yani.

Sementara itu, Kepala SLB  Kemala Bhayangkari 2 Gresik Dede Idawati mengatakan, pihak sekolah berharap agar para siswa difabel diberikan peluang yang sama dengan lainnya. “Kami mengajarkan siswa berbagai keterampilan agar bisa hidup mandiri,” kata Dede.

Menurut dia, hasil produk siswa difabel dijamin tak kalah saing dipasaran. Bahkan, beberapa daerah seperti Bandung, Bogor, hingga Kalimantan sudah sering membeli. “Kami berharap agar diberikan tempat pengembangan untuk siswa. Salah satunya dengan workshop atau tempat jualan untuk memasarkan produk siswa,” harapnya. (sam)