Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Hati-hati bagi pekerja jasa online go food agar waspada terhadap orderannya. Sebab, baru-baru ini enam tersangka diamankan Tim Cyber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jatim. Mereka adalah sindikat pembobol point Go Food. Modusnya, pelaku menggunakan order fiktif lewat aplikasi pesan makanan.

Enam tersangka tersebut adalah, MZ, FG, RJS, AA, TS dan AR. “Kita sudah amankan enam tersangka. Kita juga masih mengembangkan kasus ini,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, Sbatu (25/10).

Sementara, Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus AKBP Arman Asmara, menjelaskan, kasus ini terungkap setelah petugas cyber patrol Polda Jatim bekerjasama dengan Gojek mencurigai transaksi Go Food di beberapa warung dengan nominal yang mencurigakan.

Setelah ditelusuri, melalui barang bukti dan digital forensik, petugas mendapati adanya akun restoran fiktif. Diantaranya, Terminal Gorengan, Makaroni Su’eb RJS dan Cendol Dawet.

“Yang membuat akun restoran itu MZ dan AA dengan menggunakan akun Gobiz. Dan memiliki tiga akun restoran fiktif yang digunakan sebagai sarana penarikan uang dari Go Food,” tandas Arman.

Sedangkan tersangka FS, TS, AR dan JA, lanjut Arman, bertugas membuat akun customer fiktif sebagai pesanan atau order fiktif.

“Jadi akun customer fiktif ini yang nantinya membuat order fiktif menggunakan aplikasi Gopay dengan menggunakan voucher diskon yang ada di aplikasi Go Jek. Dengan cara itu, customer tidak perlu membayar, tapi Go Food yang dirugikan karena harus membayar ke warung fiktif,” terangnya.

Kegiatan ini, kata Arman, sudah berjalan selama kurang lebih tiga bulan dengan keuntungan per hari Rp 600.000 – Rp 1 juta.

“Kegiatan ini sudah berjalan sejak Juli 2019. Keuntungan per hari yang didapat mencapai Rp 600.000 – Rp 1 juta,” pungkasnya.

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat pasal 35 Junto Pasal 51 ayat 1 UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang perbahan atas UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang informasi transaksi elektronik dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara. (ton)