Pulau Bali memiliki Pasar Seni Sukawati, demikian juga Malaysia dengan Central Market-nya. Pasar seni ini terletak di tengah kota Kuala Lumpur. Baik Pasar Seni Kuala Lumpur maupun Sukawati, sama-sama menjadi jujugan pelancong mancanegara untuk membeli oleh-oleh beraneka ragam yang diperdagangkan disana.

Bila pelancong asing akan memasuki kawasan pasar seni ini, yang ada dalam pikiran kita adalah membeli oleh-oleh khas Malaysia seperti halnya di Sukawati untuk dibawa pulang ke negara masing-masing pelancong asing. Pikiran itu tidak salah. Sebab, yang diperdagangkan pedagang Malaysia sebagian besar produk asli kerajinan tangan negara yang dipimpin Perdana Menteri Mahathir Muhammad, itu.

Sam Yap Kang Hsien

Misalnya di Central Market Annexe yang terletak di bagian belakang bangunan pasar seni iniu menggabungkan galeri-galeri seni dan museum seni 3D. Disinilah terletak lorong seni sebuah warisan yang terwujud sekian lama menampilkan 10 studio lukisan dengan aura tersendiri. Lorong seni ini khusus dibuat pencinta seni dengan berbagai karya klasik, kontemporari, karikatur dan potret.

Tidak ketinggalan, seni batik Malaysia yang berwarna-warni turut ditawarkan untuk terus diwarisi dalam arus modernisasi dengan tarikan seni dan lukisan 3D terbaru yang beraneka warna. Lorong ini juga menawarkan pengalaman istimewa penuh estetika di bangunan bersejarah ini.

Asisstant Manager Advertising & Promotions Sam Yap Kang Hsien, mengatakan,  Central Market ini merupakan pusat kebudayaan, kesenian, kerajinan tangan dan warisan Malaysia. ‘’Banyak pelancong Indonesia yang membeli oleh-oleh cinderamata disini. Karena wisatawan asing tentunya ingin membawa barang asli dari negeri jiran,’’ kata Sam Yap Kang Hsien, di Kuala Lumpur Jumat (18/10).

Menurut dia, pasar yang berada di Jalan Hang Kasturi 50050 Kuala Lumpur ini sudah ada sejak tahun 1.888 silam. Sebelum menjadi pasar seni, Central Market merupakan Pasar Besar Kuala Lumpur yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari para penduduk dan penambang biji timah. Karena itu, pelancong Indonesia yang berkunjung ke Malaysia diharapkan untuk membeli kenang-kenangan untuk dibawa pulang ke Indonesia di pasar seni ini.

Sebab, kata dia, pasar seni Central Market sangat menggoda wisatawan yang sebagian besar berasal dari Arab Saudi, Birma, Indonesia, Singapura, serta Negara Asia Tenggara lainnya. Pada 2004, Kumpulan Kha Seng (Kha Seng Group) telah mengambil alih bangunan pasar seni ini. Dibawah naungan Central Market Sdn. Bhd., bangunan asal berserta Central Market Annexe telah dirubah menjadi sebuah pusat tumpuan pelancong dan destinasi untuk berbelanja.

Sebanyak 350 kedai/kios yang tersebar di sejumlah lorong yang berlantai dua ini. Ada tiga kedai utama di sini. Yakni, Lorong Melayu, Lorong Cina and Lorong India diperkenalkan dengan tujuan memberi paparan terhadap warna-warni Malaysia di mana rakyat berbeda ras hidup bersama dalam keharmonisan dan menambah kemeriahan di Pasar Seni. Misalnya, Lorong Kelapa membawakan snek Melayu

tradisional seperti keropok-keropok, kue atau biskuit manisan dan makanan tradisional seperti kue bijan, kue loyang dan Epok-epok Jonker.

Memasuki lorong kedai lainnya. Misalnya, The Blue Mansion yang kaya dengan barangan antik Malaysia turut meramaikan di pasar seni ini, disamping ‘Batik Emporium yang menawarkan pakaian, kasut, beg dan perhiasan rumah bertemakan batik. Selain itu, Rumah Melayu menonjolkan kecantikan senibina tradisional Malaysia menghibur pengunjung. Keberadaan Lorong Melayu, Cina dan Lorong India ini seolah ingin menunjukkan keharmonisan rakyat beda ras yang hidup berdampingan di  Malaysia.

Salah satu pemilik kedai di Central Market, Junz Cheah-Deepavali, mengandalkan dagangan untuk kaum lelaki bernama Tongkat Ali pada pengunjung utamanya warga asing khususnya dari Indonesia. “Saya menjual Tongkat Ali, yang banyak digemari warga asing,” ujarnya. Banyak cerita pedagang di pasar seni ini untuk menarik minat konsumen.

Misalnya, dengan memberi potongan yang cukup besar dengan ketentuan yang telah ditentukan. Demikian juga bila memasuki areal kios batik Malaysia, baik warga lokal maupun pelancong manca negara diminta untuk bersedia untuk ikut membatik sebelum membeli kain batik sesuai keinginan dan seleranya. Setelah berbelanja mengelilingi lorong berbagai kedai, ada kios di salah satu sudut pasar ini yang menjajakan mesage dengan cara relaksasi pijat kaki dengan ramuan herbal. Pijat kaki ini diyakini dapat menghilang rasa capai dan pegal-pegal bagi pelancong selama berada di negeri jiran. (bw)