Surabaya,(bisnissurabaya.com) Konsumen itu adalah Achmad Basid, pemilik mobil Mutsubishi Pick Up yang disita enam orang penagih/Dept Colektor.

Pada, sidang terungkap Achmad Basid, dimana mobilnya saat ini berada, apakah masih di gudang atau sudah dilelang setelah disita enam orang tukang tagih dari PT Andalan Finance Indonesia/AFI Cabang Surabaya, sedikit terjawab.

Itu terjadi setelah majelis hakim Pengadilan Negeri/PN Surabaya yang diketuai Hisbullah pada gugatan perdata No 484/Pdt.G/2019/PN Sby, mengabulkan sidang pemeriksaan setempat yang dimohonkan pihak penggugat.

Hisbullah, menilai, pemeriksaan setempat sangat diperlukan, untuk memastikan dimana keberadaan mobil Mitsubishi Pick Up  yang menjadi obyek sengketa, antara Achmad Basid, sebagai penggugat melawan PT AFI Indonesia, cabang Surabaya.

“Minggu depan dilakukan pemeriksaan setempat. Mohon pihak penggugat dan tergugat mempersiapkann diri, pagi-pagi kita berangkat ke lokasi. Sidang selesai,” kata Hisbullah, di PN Surabaya, Jum’at (18/10).

Achmad Basid, menggugat PT AFI Indonesia, cabang Surabaya, setelah mobil angsuran pada 9 April 2019 disita paksa. Padahal, untuk mobil cicilan tersebut dia sudah terbayar uang muka Rp 29 juta, beaya administrasi dan angsuran sebanyak 17 kali.

Pada saat mobil Achmad Basid, disita paksa, ternyata petugas PT AFI Indonesia, cabang Surabaya, tidak memberikan teguran atau peringatan terlebih dulu. Juga tanpa menunjukkan sertifikat fidusia, serta riwayat jika dirinya pernah cidera janji atau wanprestasi.

Usai sidang, kuasa hukum PT AFI Indonesia, Cabang Surabaya, calon menunjukkan sikap kooperatif.

“Info yang saya dapat dari kantor cabang dinyatakan kalau mobil itu ada. Cabang memberitahukan ada. Cuma saya belum melakukan pengecekan secara langsung,” ucap Calvin singkat.

Sementara Patni Palonda, kuasa hukum dari Achmad Basid, mengapresiasi, jawaban pemeriksaan setempat dari majelis hakim. Sebab, dari pemeriksaan setempat dapat diketahui dengan pasti dimana mobil kliennya berada.

“Juga dapat menepis tudingan yang beredar bahwa unit belum disetor ke kantor. Bahkan, sudah dilarikan debt collectornya,” kata Patni Palonda di Pengadilan Negeri / PN Surabaya.

Menurut Patni, gugatan terhadap PT AFI Indonesia, cabang Surabaya dia layangkan setelah proses mediasi gagal.  PT AFI Indonesia, cabang Surabaya, tidak punya itikad baik dalam mediasi itu.

“Pada waktu unit klien kami ditarik, kita sudah melakukan upaya mediasi secara persuasif, namun tidak mendapatkan tanggapan. Unit itu ditarik dengan tipu muslihat dan cara-cara kasar, oleh petugas dari PT AFI, cabang Surabaya yang tidak bersertifikasi,” tandasnya. (ton)