Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Gejolak ekonomi global, perlu ada antisipasi menjaga stabilitas perekonomian. Karena itu, Bank Indonesia/BI memiliki resep jamu yang menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan, resep jamu tersebut adalah bauran kebijakan BI yang terdiri atas kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan dan ekonomi keuangan syariah.

Menurut dia, ada lima tantangan perekonomian yang saat ini dihadapi Indonesia. Pertama, berlanjutnya perang dagang dan risiko geopolitik yang menekan perekonomian dunia dan membuat ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi. Sehingga mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman.

Kedua, dinamika aliran modal asing yang volatile atau mudah keluar dan masuk, sehingga dibutuhkan usaha untuk mempercantik investasi dalam negeri yang mampu menarik investor. Ketiga, kebijakan suku bunga yang menjadi kurang efektif.

Keempat, perkembangan ekonomi dan keangan digital yang pesat dalam bentuk financial technology dan unblinding financial services di luar bank yang berpotensi menciptakan shadow banking, digital money dan meningkatkan risiko stabilitas moneter dan finansial. Kelima, perubahan perilaku agen ekonomi, baik sebagai konsumen ataupun tenaga kerja.

Menghadapi tantangan tersebut, BI mengeluarkan “jamu” berupa bauran kebijakan. Diantaranya, melalui penurunan BI 7 Days Reverse Repo-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6,00 persen.

Selain itu, lanjut Perry, BI juga melakukan relaksasi kebijakan makroprudensial untuk meningkatkan kapasitas penyaluran kredit perbankan dan mendorong permintaan kredit pelaku usaha yang ditempuh melalui penyempurnaan Pengaturan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM)/RIM Syariah dan pelonggaran Rasio Loan to Value / Financing-to-Value (LTV/FTV) untuk kredit/pembiayaan properti 5 persen dan uang muka untuk kendaraan bermotor 5-10 persen. “BI juga terus memperkuat kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan serta strategi operasi moneter,” ujar Perry dalam Simposium Bank Indonesia Jumat (18/10).

“Dengan berbagai tantangan yang ada, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 diproyeksikan berada di bawah titik tengah kisaran 5,0-5,4 persen dan meningkat menuju titik tengah kisaran 5,1-5,5 persenpada tahun 2020. Sementara, inflasi diperkirakan tetap rendah dan stabil. Defisit transaksi berjalan diperkirakan sebesar 2,5-3 persen dari PDB,” imbuh Perry.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, cukup optimis Jatim dapat membantu pertumbuhan ekonomi nasional.

“Untuk lebih mendorong tumbuhnya perekonomian Jatim, dibutuhkan fokus program yang dapat diketahui signifikansinya. Sinkronisasi program antar instansi juga menjadi kata kunci,” kata Khofifah.

Khofifah menambahkan, pengembangan SDM juga sangat dibutuhkan. Saat ini, pemerintah Jatim telah mendorong pengembangan SDM melalui BLK antara SMA dan SMK yang serumpun untuk mampu menghasilkan tenaga kerja yang professional.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan pula Pelantikan Pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur periode 2019-2022. “Ke depan, ISEI Surabaya siap bersinergi dengan berbagai instansi untuk meningkatkan ekonomi daerah. Apalagi, dengan berbagai macam peluang dan program yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kami optimis untuk melanjutkan berbagai pencapaian positif yang telah dicapai oleh pengurus ISEI sebelumnya,” tutur Eko Purwanto, Ketua ISEI Cabang Surabaya. (ton)