Jalan-jalan ke Malaysia tak lengkap bila belum berkunjung ke Kenanga Wholesale City Mall/KWC. Pusat grosir fashion dan busana muslim ini mirip dengan Pasar Turi Surabaya. Hanya saja, di KWC busana muslim yang diperdagangkan mulai tradisional hingga design yang ter-update. Tak heran banyak usahawan/pengusaha pakaian muslim yang berasal dari Indonesia khususnya Surabaya yang kulakan di sana untuk kemudian dijual kembali di Surabaya.

Yang membedakan, bila ada pelancong dari warga asing yang datang ke pusat grosir ini membeli lima pakaian busana muslim saja, maka pedagang di KWC tidak segan-segan memberi potongan harga/diskon yang besar. Dan itu berlaku juga untuk pengusaha Indonesia yang hendak kulakan busana muslim di sini, tentunya dengan harga spesial.

‘’Tiap enam bulan, ada 1,5 juta pelancong dari Indonesia yang datang ke Malaysia. Dari jumlah itu, hanya lima persen saja yang berkunjung ke KWC,’’ kata Eksekutif Pemasaran Komunikasi KWC Mall, Nur Shahirah Shamsuddin, didampingi Pembantu Pengurus Pemasaran dan Promosie, Wendy Lam, kepada bisnissurabaya.com, disela Must Visit Shoping Mall di Kuala Lumpur Malaysia, Kamis (17/10).

Sebetulnya, apa yang diperdagangkan di KWC semuanya ada di pusat grosir Pasar Turi Surabaya. Yang membedakan, busana muslim yang tersedia di sana mulai pakaian tradisional hingga busana muslim modern yang terkini/ter-update harganya murah. Terutama hijab Malaysia yang paling dicari pelancong asal Indonesia.

‘’Inilah yang mendorong warga Indonesia khususnya pedagang memborong busana muslim termasuk hijab. Selain disignya modern dan ter-update, harganya juga murah,’’ tambah gadis asli Malaysia ini sambil menjelaskan selain pelancong dari Indonesia juga warga Arab Saudi, Singapura, India dan turis asing dari Asia Tenggara lainnya.

Harga busana muslim yang ditawarkan mulai  RM5-RM60 (5 ringgit – 60 ringgit) untuk hijab dan busana muslim harganya RM25 keatas. Harga tersebut, kata Shahirah, akan lebih murah lagi hingga RM19 bila membeli dengan jumlah banyak. Sehingga banyak pembeli yang datang ke KWC selain warga lokal Malaysia juga orang asing tetangga yang berdekatan dengan negara yang dipimpin Perdana Menteri/PM Mahatir Muhammad ini.

Sama dengan Pasar Turi Surabaya, letak KWC Fashion Wholesale berada pada Segi Tiga Emas Kuala Lumpur dan berdekatan dengan Stasiun Kereta Api  LRT Hang Tuah dan Pudu. Sehingga mudah diakses konsumen dari berehan dunia ini. Di Pusat Grosir terbesar di Kuala Lumpur ini juga tersedia pakaian laki-laki, sukan, anak-anak, tas, kasut, aksesori, dan pakaian untuk Umrah & Haji serta aksesoris.

‘’KWC dihuni sekitar 800 kedai/kios dari sembilan lantai termasuk foodcourt,’’ tambah Wendy Lam, sambil menjelaskan pusat grosir ini saat peack season dikunjungi 30.000 orang. Sementara, salah satu penjaga toko/kios busana muslim di KWC asal Indonesia, Lisa, mengatakan, bila ramai pembeli omzetnya mencapai RM500. Sedangkan bila sepi pembeli omzetnya dibawah RM500. Lisa yang telah 14 tahun menetap di Malaysia ini menceritakan banyak juga pengusaha Indonesia yang memborong busana muslim disini.

Terutama menjelang ramadhan dan idul fitri sudah dapat dipastikan banyak pengusaha asal Indonesia yang kulakan busa muslim terkini untuk diborong untuk kemudian dijual kembali di Indonesia. ‘’Biasanya mereka memborong busana muslim menjelang ramadhan, idul fitri,’’ kata Lisa, yang asal Sumatra ini. Sebetulnya, apa yang ada di pusat grosir KWC, semuanya juga dijual di Pasar Turi.

Bahkan, di pusat grosir Pasar Turi juga menyediakan pakaian sekolah mulai TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, serta pakaian seragam untuk kantor dan TNI/Polri. Sehingga, saat musim tahun ajaran baru pada Juni/Juli Pasar Turi selalu dipadati konsumen. Baik orang tua yang ingin membeli pakaian seragam sekolah maupun pihak sekolah.

Owner AA Fashion di Pusat Grosir Pasar Turi, Djulaicha, mengatakan, pihaknya menguasai peta bisnis seragam dari Sabang sampai Merauke. “Paling banyak Ambon, pertama orangnya datang sendiri ke sini, selanjutnya mereka tinggal transfer dan barang kami kirim,” tutur Djulaicha. Ia menerima order terbanyak dari wilayah luar Jawa. Di antaranya Kupang, Ambon, Balik Papan, dan Samarinda.

Koordinator Media Fam Trip, Syamsul, menambahkan, meski pusat grosir di Surabaya mirip dengan KWC Kuala Lumpur, sedikitnya ada lima persen dari 1,5 juta warga Indonesia selama enam bulan yang berkunjung ke Malaysia, merupakan konsumen dari pusat prosir terbesar ini. Namun, ia memprediksi jumlah itu akan terus bertambah bila pihak pengelola gencar melakukan promosi.

‘’Saya melihat masyarakat Indonesia adalah pasar utama dari pusat grosir KWC yang menjual busana muslim tradisional hingga yang paling modern ini,’’ kilahnya. Karena itu, kata dia, dibutuhkan promosi yang berulang-ulang agar pusat grosir ini lebih banyak dikunjungi warga asing khususnya dari Indonesia. (bw)