Surabaya,(bisnissurabaya.com)– Dengan lebel sebagai perusahaan penyedia teknologi dan layanan global.

Tentu Bosch berkomitmen mewadai dan mencetak ide-ide kreatif berkaitan dengan teknologi Informasi (TI) itu. Ya, lewat ajang kompetisi Internet of Things (IoT) Hackathon 2019 ini adalah mencetak kreatif handal anak muda ber-IoT.

Pun kompetisi tersebut menjaring ide-ide kreatif dari Sumber Daya Manusia (SDM) lokal. Untuk menumbuhkan, mempromosikan dan mendukung inovasi anak-anak muda yang cerdas digital dengan menantang mereka untuk mengembangkan solusi IoT yang difasilitasi Bosch.

Pemenang Bosch kompetisi Internet of Things (IoT) dari Unafeed asal Jogyakarta, Kamis (17/10) di Surabaya.

“Untuk pertama kalinya Kota Surabaya menjadi ajang digital natives ini sebagai wadah generasi muda Surabaya untuk berkreasi mencipta solusi Internet of Things. Tentu, Bosch akan memberikan dana dukungan pengembangan ide kreatif itu,” jelas Andrew Powell, managing director Bosch di Indonesia.

Bosch IoT Hackathon 2019 akan menyatukan para digital natives untuk beradu ide di ranah IoT guna memecahkan problematika di Indonesia. “Terutama yang berkaitan dengan manufaktur pintar, mobilitas pintar, kota pintar, agrikultur pintar serta solusi IoT untuk peningkatan kualitas lingkungan,” kata Andrew.

Indonesia, lanjut Andrew, telah bertransformasi menjadi ekosistem bisnis Internet of Things (IoT) bernilai sekitar Rp 444 triliun pada 2022 mendatang. Saat ini, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai lebih dari 140 juta pengguna.

IoT sendiri merupakan salah satu kemajuan teknologi kunci guna mendukung implementasi industri 4.0 di Indonesia sebuah inisiatif untuk membantu mewujudkan visi negara dalam menjadi salah satu dari sepuluh besar ekonomi di tingkat global.

“Kompetisi ini bertujuan menumbuhkan kreativitas dan semangat inovasi di kalangan digital natives di Indonesia, yakni para maker, data scientist, hacker, IoT enthusiast dan developer,” imbuh Andrew.

Para finalis memiliki waktu 24 jam untuk bekerja dengan para pakar industri dari Bosch untuk secara lebih lanjut mengembangkan model bisnis mereka sebelum sesi pemilihan pemenang. Tim pemenang berhak menerima anggaran proyek serta bekerja secara kolaboratif dengan Bosch guna mengevaluasi komersialisasi dan potensi pasar dari ide-ide mereka.

Apabila menjanjikan, tim akan diundang menghadiri dan mempresentasikan proyek mereka di ajang Bosch Connected World 2020 di Berlin, Jerman.

Ajang ini berformat hackathon menantang sejumlah peserta untuk secara berkelompok saling berpacu menyusun dan mengembangkan ide sampai ke model bisnisnya, kemudian mempresentasikan hasilnya di hadapan tim juri.

“Harapan kami, langkah Bosch ini dapat mendorong anak-anak muda Indonesia yang kreatif dan inovatif untuk mengeksplorasi solusi Indonesia yang unik, dan yang terpenting, mengubah ide-ide mereka menjadi solusi yang terhubung untuk masa depan,” pungkas Andrew.

Pada kompetisi mencetak IoT handal itu. Tim juri Bosch telah memenangkan tim Unafeed dari Jogyakarta yang mampu menciptakan ide kretif kekinian yang menciptakan mesin berteknologi peternak sidat.

Unafeed sendiri adalah pakan sidat ( Unagi eel) otomatis yang dilengkapi berbagai sensor untuk membantu peternak sidat meningkatakan efisiensi ternak. “Unafeed ini bekerja dengan cara pengaturan, pola pemberian makan dan pemantauan kolam untuk optimal untuk pertumbuhan ikan sidak,” ujar Founder Unafeed, Herawan Caraka.

Alumni Universitas Gajah Mada ini mengakui ide itu tercetus olehnya dan dua rekanya berawal dari peternak ikan sidat yang belum berstandart di negara Jepang.

” Harga sidat di Jepang sekitar 50 dolar Amerika atau kisaran Rp 500 ribu lebih / perkilonya. Namun, ikan sidat hanya laku di Negara Cina dengan harga kurang dari Rp 300 ribu atau 18 dolar Amerika,” ujarnya.

Akibat, sering gagal panennya peternak ikan sidat itulah muncul ide menciptakan alat berteknologi dengan sensor-sensor dan pemantau agar ikan sidat lebih efisiensi berkembang biak secara akurasi.” Alat ini tidak untuk dijual, tetapi bila memang mendukung akan diproduksi secara masal. Dengan, harga kisaran Rp 7 jutaan,” jelas pria berkaca mata minus ini kepada bisnissurabaya.com. (ton)