Solo, (bisnissurabaya.com) – Otoritas Jasa Keuangan/OJK melakukan edukasi kepada  masyarakat. Hal ini sesuai UU No 21/2012, tentang OJK memiliki berbagai kewenangan sebagaimana tugas pokok dan fungsinya. Antara lain, pengawasan bank (merupakan pengalihan kewenangan dari Bank Indonesia), pengawasan pasar modal (merupakan  pengalihan kewenangan dari Badan Pengawas Pasar Modal), pengawasan lembaga jasa keuangan non bank seperti asuransi dan pegadaian, pengawasan finansial technology /fintech, serta edukasi dan perlindungan konsumen.

Tugas pokok dan fungsi OJK ini,  yang ingin disosialisasikan kepada masyarakat sebagai bagian dari fungsi edukasi dan perlindungan konsumen.

“Kami mengajak para pihak termasuk wartawan untuk mensosialisasikan fungsi OJK kepada masyarakat, supaya masyarakat bisa lebih terlindungi,” kata Direktur OJK Regional 4 Jatim, Eko Gondah, kepada bisnissurabaya.com di Solo Jumat (11/10).

Sebagai bentuk aplikasi konkrit perlindungan konsumen, OJK Jatim mengeluarkan program Sistim Informasi Debitur (SID), Sistim Informasi Layanan Keuangan (SILK).

Keberadaan kedua aplikasi informasi tersebut, tentu saja sangat membantu nasabah selaku konsumen. Mengingat di Jatim terdapat 78 bank dengan 300 kantor cabang baik konvensional, syariah, maupun Bank Perkreditan Rakyat/BPR.

“Di Jatim juga terdapat  kantor pusat beberapa bank. Antara lain, Bank Jatim, Maspion, dan Amar,” kata laki-laki berperawakan tegap ini.

Secara khusus, OJK juga memberikan tip khusus kepada konsumen agar lebih berhati-hati dalam berinvestasi. Caranya dengan menggunakan parameter 2L dalam investasi. Yaitu, Logis secara sistem dan Legal secara penyelenggaraan.

Dengan melakukan prinsip kehati-hatian, maka konsumen dapat terhindar dari kerugian yang diakibatkan investasi bodong.

“Sampai saat ini laporan pengaduan kasus oleh masyarakat kepada instrumen perbankan, pasar modal, dan asuransi masih cukup tinggi,” tambah Eko Gondah. (nanang)