Jualan Vape Meningkat Berkat Dikenai Cukai

46

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – KEDATANGAN rokok elektrik yang lazim disebut “vape” sejak 2015-an ke negara kita, menjadi berkembang. Bersamaan dengan itu, keresahan di kalangan pemerintahan dan masyarakat yang memperkirakan bahaya apa yang dibawa oleh cairan kimia sebagai pengganti “tembakau kimiawi” itu juga meningkat. Di Amerika, khususnya negara bagian California, sudah diindikasi kandung pembawa penyakit kanker, sehingga pemerintahan negara bagian tersebut menyiapkan dana guna menanggulangi dampak vape.

Di negara kita justru muncul keanehan. Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), yakni asosiasi produser rokok elektrik tersebut, minta pemerintah kita bersikap adil dalam memberlakukan industri liquid dari rokok elektrik (vape). Menurut asosiasi itu, peraturan yang sekarang cenderung memberatkan APVI.  “Kita berharap ada regulasi yang dikeluarkan pemerintah yang berpihak pada kita,” kata Ketua APVI, Aryo Andriyanto (9/10).

Yang dimaksud “kita” itu sebenarnya “kami” kalau menurut bahasa Indonesia yang baik dan benar.  Katanya, perbedaan cukai yang dikenakan kepada rokok elektrik saat ini mencapai 57 persen. Sedangkan cukai untuk rokok konvensional (berbahan tembakau) tidak sampai setengahnya. Namun, keluhan Andriyanto, itu jadi meragukan apabila dibandingkan dengan pendapat Penasehat Asosiasi Vaporizer Indonesia, Dimasz Jeremia.

Katanya, besaran cukai hendaknya ditentukan berdasar tingkat emisi yang dihasilkan oleh produk rokok. Menurutnya, rokok elektrik cairan yang diklaim memiliki tingkat emisi lebih rendah dibandingkan rokok konvensional dari segi kesehatan. Katanya lagi, perkembangan rokok elektrik di Indonesia sejak tahun 2013 yang jumlahnya ratusan saja, tahun 2018 ini “pasarnya meledak” dan meningkat drastis. Salah satunya, produsen vape di Indonesia bernama Emkay Brewer menyatakan, bahwa  penjualan rokok elektrik  sebelum dikenakan pajak sekitar 70-120 ribu botol, jadi meningkat keras 500 ribu botol/bulan setelah dikenakan pajak saat ini. Pernyataan itu ditimpali pemilik produksi Jakarta Vapor Shop (JVS), Budiyanto, bahwa setelah dikenakan aturan cukai, penjualan cairan vapenya naik 200 persen menjadi 20 ribu botol/bulan.

Kalau memang benar apa yang dinyatakan oleh Jeremia, Brewer maupun Budiyanto, maka pengenaan cukai rokok elektrik yang berlaku sekarang  kiranya wajar. Alasan “kewajaran” itu mengingat munculnya peringatan dan kekawatiran mengenai kandungan vape yang dimungkinkan membawa penyakit. Antara lain penyakit kanker. Kegerahan kalangan pemerintahan kita, terutama dari Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Kesehatan Dr. Nina Muluk dan banyak pihak lagi terhadap kemungkinan bahaya materi vape dan dampaknya, barangkali lebih suka cukai vape itu ditiadakan dengan catatan vape dilarang diedarkan.

Pihak-pihak Kementerian sudah dibingungkan dengan rokok-rokok konvensional (bahan baku tembakau) karena dampaknya terhadap kesehatan manusia kita, sehingga memburunya dengan menaikkan terus-terusan cukainya. Yang jelas, tidak bisa melarang produk rokok asalkan resmi (bercukai). Masalahnya, mata rantainya panjang sekali dan menyangkut harkat hidup rakyat. Dimulai dari kehidupan petani (pemilik lahan ataupun buruh tani), perkebunan-perkebunan tembakau berikut para buruhnya, pelaku-pelaku pendukung proses mulai tanam hingga pasca panen, pabrik-pabrik rokok dan para buruh pabrik rokok itu sampaipun mata rantai terakhir, yakni para penjual lewat  toko-toko ataupun eceran. Mata rantai yang langsung menyangkut harkat kehidupan ekonomi masyarakat luas. Bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Lalu, kita tanyakan mengenai produksi (cairan) vape. Seberapa besar kemaslahatan ekonomis buat masyarakat luas diperbandingkan dengan dampak negatif yang bisa ditimbulkan?  Benarkah emisi bahan cairan untuk rokok elektrik itu lebih kecil ketimbang emisi tembakau? Tidak adakah dampak lainnnya terhadap kesehatan manusia kita selain emisi dari bahan cairan tersebut? Lalu pada akhirnya, tinjauan terhadap kemaslahatan masyarakat secara luas yang sebagaimana menyangkut masalah pertembakauan. Produksi rokok tembakau memang selalu meresahkan. Kalau dulu urusan seberapa besar keuntungan yang didapat oleh negara, ketika dimaklumi bahaya emisi tembakau bagi kesehatan pernafasan manusia, keresahannya adalah bagaimana membatasi orang-orang kita untuk menghisap rokok. Salah satunya dari tahun ke tahun menaikkan cukai rokok hingga ada yang mencapai 50 persen. Pada hal, rokok konvensional itu menyerap pajak cukup besar. Dari pajak yang dikenakan kepada petani tembakau (untuk lahannya), atau proses produk dan managementnya (untuk perkebunan tembakau milik BUMN atau swasta), pajak untuk management/karyawan dan industri di pabrik-pabrik rokok, dan kemudian cukai penjualan rokok itu.

Kalaulah menurut Jeremia, Brewer dan Budiyanto yang dianggap mewakili semua rekan-rekan produsen rokok elektrik lainnya, bahwa setelah dikenakan pajak justru penjualan produknya “meledak”. Apakah pernyataan itu berdasar realita, ataukah seolah “menyindir” Pemerintah yang mengenakan pajak pada produk mereka. Kalau hal demikian sebagai realita, maka barangkali perlu dipertimbangkan pajaknya untuk dinaikkan lagi apabila dikehendaki penjualan produknya lebih “meledak”. Barangkali dengan nilai cukai yang tinggi, bakal ada sedikit sumbangannya pada Negara dan rakyat kita.

Bagaimana bagi kesehatan masyarakat? Muncul kontradiksi antar para peneliti kesehatan di dunia. Jurnal medis MADA Internal Medicine (Perancis) menyiarkan, penelitian terhadap 5000 orang perokok elektrik setiap harinya selama antara rata-rata 2 tahun, bahwa para usia dewasa perokok elektrik punya kelebihan tingkat keberhasilan menurunkan intensitas merokok serta peluang untuk berhenti sepenuhnya satu setengah kali lebih tinggi. Tapi pesannya, meskipun perokok itu dapat berhenti merokok dengan bantuan rokok elektrik, mereka tetap memerlukan dukungan yang berkelanjutan dari para tenaga profesional kesehatan!

Pendapat secara hati-hati dari pakar Kesehatan Publik, juga Ketua Peratuan Ahli Jaminan Kesehatan  Indonesia (PAMHAK), Dr dr Rosa Christiana Ginting, riset JAMA Internal Medicine itu memberikan pespektif baru  tentang perlunya kesadaran akan peran produksi alternatif terhadap kesehatan.  “Ini mengingatkan kami perlunya dukungan dan dorongan yang terus-menerus dari pihak lain, termasuk para ahli kesehatan untuk memantau perkembangan upaya seorang perokok untuk berhati-hati.”

Pernyataannya itu mungkin dikaitkan dengan  santarnya berita-berita media massa Amerika Serikat, terutama koran tua yang tenar, the New York Times, mengenai laporan  Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat yang menyatakan,  jumlah orang yang terkena penyakit paru-paru akibat menghisap rokok elektrik alias ‘vaping’ meningkat lebih dari 200 orang perminggunya. Hingga kini otoritas

kesehatan AS tersebut mencatat 1.299 orang yang mengidap penyakit paru-paru dan 29 orang lainnya sudah meninggal. Menurut koran itu, jumlah tersebut bertambah 219 kasus baru dan 7 kasus kematian yang terjadi di 49 negara bagian AS. Yang mati itu tercatat berusia antara 17 – 75 tahun.

Di Indonesia, kita tunggu  kabar dari kementerian atau lembaga atau organisasi kesehatan yang mencatat kenaikan penderita penyakit paru-paru dan yang meninggal akibat rokok elektrik. Mungkin di situ dipertimbangkan lagi, dibenarkan atau tidaknya rokok elektrik diproduksi di dalam negeri dan dihisap para remaja kita. Barangkali disitu baru jelas kisah perjalanan rokok elektrik. Atau dibiarkan saja sehingga terjadi seperti di Amerika Serikat itu, sehingga kita punya generasi yang sesak nafas ataupun perlu ucapan “ikut berduka cita. (amak syariffudin)