Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Revolusi Industri 4.0 nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan dan kognitif. Industri 4.0 menghasilkan “pabrik cerdas”.
Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi kemudian melakukan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan berbagai pihak dalam rantai nilai.

Kehadiran revolusi industri 4.0 bagi dunia pendidikan adalah suatu keniscayaan. Karena itu, untuk meningkatkan kompetensi, perlu melakukan upaya mendekatkan dunia pendidikan dengan dunia industri. Termasuk mendirikan fakultas vokasional seperti yang diharapkan masyarakat.

“Kolaborasi dan partisipasi ini dilakukan, supaya dunia pendidikan tidak maju sendirian. Seperti keadaan sebelumnya,” kata Rektor Universitas Widya Kartika (UWIKA) Surabaya, Philippus Priyo Suprobo, didampingi Kepala Program Studi Teknik Sipil, Arif, kepada Bisnis Surabaya belum lama ini.

Building Information Managemen (BIM) adalah salah satu sistim kontruksi yang terus disosialisasikan UWIKA kepada masyarakat sebagaimana yang dimaksudkan revolusi industri 4.0. Dengan sistim BIM yang memaksimalkan informasi, mulai dari proses adopsi, digitalisasi, kolaborasi, dan integrasi akan tercapai efisiensi sampai 30 persen.

Karena, biasanya proyek selalu over time dan budget. Proyek infrastruktur di Indonesia yang mencapai Rp 60.000 triliun sangat cocok apabila menggunakan metode BIM. ”Sebenarnya, Indonesia terbilang terlambat dalam menerapkan BIM. Karena Tiongkok sudah memulai sejak 2.000, Malaysia 2015, dan Singapura 2016,” tambah rektor berkacamata ini. (nanang)