Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Wartawan dituntut memegang idealism. Hal itu, menjunjung profesionalisme dalam menjalankan tugasnya, serta memberikan informasi dan bertanggung jawab. Penegasan itu dikemukakan Dosen Stikosa-AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya) Zainal Arifin Emka di Surabaya Sabtu (5/10).

“Pers harus menjunjung tinggi profesionalisme. Wartawan jangan hanya sekedar punya keahlian, integritas dan orientasi pada profesinya tetapi harus diingat unsur idealisme,” kata Zainal dalam acara sarasehan dengan wartawan hukum. Pada sarasehan “Ngangsuh Kaweruh” Zainal, menekankan agar pers menjalankan fungsinya dengan benar.

“Pers, mestinya tidak sekedar memberitakan kemelut apalagi menjadi bagian didalamnya. Mestinya pers yang sehat itu mencari jalan keluar. Pers yang sehat bertanggung jawab pada publik,” tambah mantan Ketua Stikosa AWS ini. Adanya jaminan kebebasan pers sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers pasal 4, bukan berarti membuat pers menjadi kebablasan.

Wartawan atau jurnalis adalah seseorang yang melakukan kegiatan jurnalistik atau orang yang secara teratur menuliskan berita dan tulisannya dikirimkan atau dimuat di media massa secara teratur. Selain, mencari informasi, wartawan juga mengolah dan mengobservasi sesuatu hal yang ingin dijadikan berita.

“Seorang wartawan harus mencari fakta atau bukti yang nyata sebelum membuat suatu berita. Karena berita memiliki arti, yaitu laporan peristiwa berupa paparan fakta dan data. Itu artinya wartawan tidak boleh membuat suatu berita berdasarkan opininya sendiri,” tambahnya. Menurut Zainal, tingkah laku baik pers terbagi dari sudut eksternal berdasarkan aturan hukum dan internal dalam bagian kehidupan pers.

Dalam kaitannya dengan tuntutan internal, Zainal, mengatakan, bahwa pers harus menjunjung tinggi kode etik. “Mari kita jaga agar pers tidak menjadi bagian dalam kegaduhan. Pers tidak boleh menciptakan kontradiksi dan konflik tetapi semua mendorong untuk hal yang lebih baik,” jelas Zainal. (ton)