Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kemajuan teknologi membawa banyak perubahan, termasuk  dalam dunia bisnis. Terutama industri dan perdagangan. Hal ini ditandai dengan ditemukannya mesin – mesin industri. Antara lain, mesin uap, pemintal benang, dan mesin tenun, yang menggantikan tenaga manusia pada masa revolusi industri di Inggris pada 1750 – 1850. Revolusi industri terus berkembang, mulai dari revolusi industri 1.0 hingga 4.0 seperti sekarang ini.

Revolusi Industri 4.0 adalah trend dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dan teknologi cyber. Trend ini membawa perubahan pada dunia  kerja dan bisnis. Dibidang industri transportasi hadir Grab dan Go-jek. Sementara dibidang perdagangan hadir toko pelapak seperti bukalapak.com, blibli.com, tokopedia, shopee, lazada, dan OLX. Kehadiran bisnis berbasis jaringan online ini membawa dampak bagi sektor bisnis yang berbasis off line. Banyak usaha yang kemudian tutup. Antara lain, ojek pangkalan, angkutan kota, mesin ketik, warung telekomunikasi, toko, warung, dan lain-lain.

Menghadapi fenomena seperti ini membuat pelaku bisnis mall harus berpikir keras menghadapi keniscayaan yang terjadi. Belakangan ini, beberapa mall di Jawa Timur/Jatim (Jatim) telah berhenti beroperasi. Diantaranya, Golden City Mall (Goci), Hi Tech Mall di Surabaya, dan Sri Ratu di Kediri.

Menurut beberapa analisa, salah satu faktor penyebab tutupnya mall tersebut karena harus bersaing dengan toko online yang menjamur di masyarakat. “Keberadaan online dan offline mestinya disandingkan, bukan dibandingkan. Karena keberadaannya seperti dua sisi mata uang yang melekat dan berhubungan erat,” kata Direktur Maspion Square Surabaya, Yudi Kristanto, kepada Bisnis Surabaya pekan lalu.

Sementara itu Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jatim, Sutandi  Purnomo Sidi menambahkan dengan menerapkan strategi memadupadankan online dan off line akan berdampak bagus. Ternyata beberapa mall di Surabaya terbukti sukses mempertahankan tingkat kunjungan sampai 95 persen.

Sebagai mall terbesar dan terlengkap di Surabaya, Maspion Square telah mengambil langkah terobosan dengan memadupadankan sistim offline dengan aplikasi online, disamping terus mempertahankan heterogenitas bentuk layanan mall lifestyle (gaya hidup) yang menyediakan berbagai keperluan kaum milenial. Mulai dari kuliner, hiburan, otomotif, dan produk teknologi informasi (IT). “Berbagai tenant kami juga memberikan discount yang cukup besar sebagai bagian strategi bisnis. Karena kami meyakini pembeli selalu mempertimbangkan faktor harga murah, kelengkapan produk, dan kepantasan,” jelas penghobi kuliner nusantara dan chinese food ini.

Kehadiran tenant furniture Informa melengkapi tenant-tenant yang lebih dulu ada di Maspion Square. Antara lain, tenant  furniture, produk IT seperti Hartono, dan tenant lain di  Maspion IT, Pusat Otomodif Terpadu (POT), kacamata, batik, tenant kuliner seperti  AW, Tong Tji, Richese, angkringan Makjoss, Roti O, Kedai 27, O Bunder, Nasi Goreng 69, Mie Semprul, Pusat Oleh Oleh UMKM Rek Ayo Rek.

Untuk mengimplementasikan visi Maspion Square sebagai mall lifestyle, managemen menyiapkan spot foto yang instagramable dibeberapa tempat. Sehingga bisa mengundang kaum milenial untuk selfi (swa foto) disana. Sebagai pengelola bisnis mall, Yudi Kristanto, berharap agar pemerintah bisa menjadi patron yang memberikan keteladanan bagi masyarakat. Hal ini penting dalam mendorong situasi dan kondisi negara bisa stabil.  “Harga yang stabil  membuat masyarakat dapat menyesuaikan  kemampuan dan daya belinya,” tambah penyanyi lagu rohani ini. (nanang)