Surabaya, (bisnissurabaya.com)- “Menjadi cheff harus profesional, tidak boleh emosional,” kata Food and Beverage Direktur Hotel Best Western Pappilio Surabaya, Cheff Rudi Hartono. Memang, apapun profesi yang dijalankan harus dilakukan secara professional. Tidak boleh terpengaruh  suasana hati (emosi).

Termasuk profesi seorang cheff yang bertanggung jawab terhadap penyediaan menu makanan. Coba dibayangkan, bagaimana jadinya jika seorang cheff membuat masakan sambil marah-marah. Maka, dapat dipastikan menu tersebut rasanya tidak sesuai standar yang ditetapkan.

Sikap profesional ini dipegang teguh oleh Food and Beverage Direktur Hotel Best Western Pappilio Surabaya, Cheff Rudi Hartono. Etos kerja tersebut, didapatkan sejak menempuh pendidikan di Balai Pendidikan Latihan Pariwisata (BPLP) Yogyakarta. Diperdalam saat training di Hotel Garden Palace, dan  pengalaman selama 22 tahun bekerja di berbagai tempat.

Seperti restoran Jerman di Surabaya, Restoran Mayasari di Legian Bali, Hotel Majapahit Mandarin Oriental Surabaya, Kapal Pesiar Carnival Cruise Line, Hotel Jumaira Beach, Al Haktur, Bults Haliran di Dubai, Festival Food Pucket Thailand, Oriental Filiphina, Hotel Batara Balikpapan, Swiss Bell Inn Citraland Banjarmasin, Best Western Premire The Have Jakarta, Archipelago Aston Jember, dan Best Western Papilio Surabaya.

Untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya sebagai cheff, Rudy Hartono bergabung dengan Indonesia Cheff Asociation (ICA) dan Association Culinary Profesional (ACP). Dia juga pernah mengikuti kontes nasional Black Box Competition yang materinya membuat makanan untuk agenda tahunan, dimana dalam 1 bulan dia diwajibkan menyiakan menu tematik.

“Saya pernah menangani penyediaan menu masakan untuk  suatu acara yang pesertanya mencapai 5.000 orang,“ kata pengagum Presiden ICA Hendri Blom dan Cheff Gordon Ramsey dari Austria,”

Di setiap hotel tempat bekerja, Rudi Hartono selalu menciptakan menu baru yang disesuaikan dengan kearifan lokal. Saat di Best Western Papilio, laki-laki kelahiran Probolinggo 7 Agustus 1972 ini mengeluarkan menu rawon Sumur Welut. Menu ini namanya dikaitkan dengan warnanya hitam yang mirip kubangan lumpur.

Sedangkan menu lain yang diciptakan adalah ayam kampung, bebek goreng, dan bebek bakar Papilio yang istimewa karena menggunakan bahan pilihan mencapai 900 gram per porsinya.

“Selama menjalankan profesi cheff, hal yang menyenangkan saya adalah saat menu masakan diapresiasi positif oleh tamu. Sedangkan hal yang menyedihkan adalah saat menghadapi bawahan yang tidak disiplin dan tidak total saat bekerja,” tambah suami Indah ini. (nanang)