Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Surabaya memiliki sejuta kisah sejarah. Bahkan, di sejumlah sudut kota cocok dijadikan tempat mejeng ala zaman kolonial. Namun, jika ingin yang berbeda, penikmat selfi bisa datang ke Jalan Gula, untuk berfoto ria dengan segala model.

Jalan Gula terletak di kawasan Surabaya Timur, khususnya daerah Bongkaran Kecamatan Pabean. Mungkin bagi warga luar Surabaya sulit untuk menemukan jalan yang bernilai sejarah tinggi itu. Karena letaknya cukup tersembunyi, dan diapit gang-gang sempit.

Jalan Gula, sebenarnya bagian dari kawasan Kota Tua Surabaya. Tetapi, tidak tahu siapa yang mengawalinya. Belakangan, popularitas jalan tersebut meningkat terutama di kalangan anak baru gede/ABG. Banyak orang berselfi ria untuk mendapatkan foto yang pas dengan suasana zaman kolonial.

Yang menarik, begitu sampai di sana pengunjung tak perlu membayar tiket masuk. Cukup mengeluarkan Rp 2.000 untuk parkir sepeda motor dan menyodorkan uang receh untuk retribusi kebersihan. Setelah itu, para ABG, kaum milenial yang gemar akan zaman dahulu kala bebas mengeksplorasi area sekitar Jalan Gula yang penuh sensasi itu.

“Saya, awalnya cuma tahu dari sosmed. Terus mencoba datang ke sini bersama teman ternyata tempatnya sangat bagus dan indah untuk melakukan dokumentasi foto,” kata salah satu pengunjung, Azarine, kepada bisnissurabaya.com, Senin (30/9) kemarin.

Tak heran, jika banyak sekali pengunjung yang datang setiap hari. Apalagi saat weekend/hari libur, cocok untuk menghabiskan waktu bersama teman, dan keluarga. Apalagi untuk memadu kasih bersama pacar tercinta.

Dengan kondisi bangunan tua dan rapuh, arsitektur bangunan yang unik, justru menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, bila Jalan Gula digarap serius oleh Pemerintah Kota/Pemkot Surabaya, tak menutup kemungkinan para bule manca negara akan melirik obyek wisata gedung tua peninggalan zaman kolonial Belanda.

Berjalan-jalan di sudut kota tua ini rasanya seperti sedang dibawa pada era zaman penjajajahan Belanda ratusan tahun lalu. Karena Jalan Gula memiliki gedung-gedung kuno, yang sebagian sudah lapuk dan tak terawat. Inilah nilai wisatanya bagi para bule khususnya dari Belanda, Jepang dan Portugis. (fania)