Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Selama ada perkawinan, bisnis properpti tak pernah mati. Sebab, pasangan suami istri yang baru menikah tentunya berusaha membeli rumah dengan cara mencicil. Karena itu, dipastikan usaha dibidang properti akan langgeng. Hanya saja, pihak pengusaha tidak boleh serakah apabila usahanya semakin tumbuh.

Penegasan itu dikemukakan Ketua REI Jawa Timur/Jatim, Ir Danny Wahid, MT dan Sekretarisnya, Mirza Muttaqien, SH ketika berbicara dalam dialog ‘Tantangan dan Peluang Bisnis Properti di Jatim’ di Surabaya Sabtu (28/9). ‘’Selama ada kelahiran bayi, anak SMA yang pacaran kemudian menikah, bisnis properti tak pernah mati,’’ kata Danny Wahid.

Menurut dia, rumah merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat, khususnya yang berusia 21 – 44 tahun. Ia menyarankan, kepada pengantin baru agar segera memikirkan untuk membeli rumah lewat pengembang. Sebab, harga jual rumah setiap tahun akan naik. Alasannya, Upah Minimu Kabupaten/kota setiap tahun naiknya berkisar 8-13 persen. Sedangkan kenaikan harga properti antara 15-25 persen.

Jadi, kata dia, jangan pernah menunda keinginan untuk membeli rumah. Karena kenaikan UMK bila dibandingkan dengan kenaikan harga properti lebih tinggi nilai perumahan. Apalagi, permintaan (demand) dan penawaran (supply) di Jatim sangat tinggi. Hal senada juga dikemukakan Sekretaris REI Jatim, Mirza Muttaqien, SH. Ia kemudian menceritakan pengalaman pribadinya saat hendak menikah dulu.

Saat itu, menurut Mirza, kedua orangtuanya sudah mewanti-wanti 1 bulan setelah menikah harus keluar dari rumah orangtuanya. Dengan pengalaman pribadinya itulah, Mirza Muttaqien, meyakini bisnis properti akan terus berkembang dan tidak pernah mati. Apalagi, kebutuhan akan rumah baru setiap tahun sekitar 800.000.

Saat ini, kata Mirza, pemerintah tetap memberi subsidi terhadap program rumah sejahtera tapak/RST. Misalnya, seseorang yang bekerja dengan gaji UMR sekitar Rp 3,8 juta/bulan tetap akan bisa membeli rumah dengan cara menyicil dengan cicilan dibawah Rp 1 juta atau Rp 900.000 per bulan.

Pada bagian lain, Ketua REI Jawa Timur/Jatim, Ir Danny Wahid, MT, menjelaskan jumlah anggota REI di Indonesia hingga September 2019 ini sekitar 4.629. Dari jumlah itu, anggota REI Jatim mencapai 413. ‘’Sebetulnya, jumlah anggota REI Jatim menurun. Karena pada 2018 jumlahnya 512. Penurunan itu disebabkan karena mereka tidak melakukan daftar ulang kembali,’’ kilahnya. (bw)