Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Penyebaran dan berkembangnya agama Hindu di Indonesia, mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran agama dengan memberi basis pengembangan budaya lokal. Senin budaya nusantara walaupun memiliki akar sejarah yang sangat tua, dan melintasi zaman beberapa generasi yang berbeda, hingga kini masih dirawat dan dipegang teguh oleh umat Hindu di Indonesia.

Penegasan itu dikemukakan Ketua Panitia Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional III, I Made Sutresna, S.AG., MA. Festival yang berlangsung lima hari ini dibuka Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin, di Hotel Sangri-La Surabaya Rabu (18/9) malam. Tampak hadir Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Walikota Tri Rismahrini, Dirjen Bimas Hindu, Prof I Ketut Widnya, Pangdam V Brawijaya, Kapolda Jatim, Ketua DPRD Jatim, serta SKPD Jatim.

Menurut Sutresna, ritual agama Hindu yang dilaksanakan pada etnis di Indoensia memiliki karakteristik yang sangat khas dan berbeda-beda. Kekhususan itu terletak pada diberinya ruang pada pengaruh adat atau budaya lokal, senantiasa mengiringi prosesi keagamaan Hindu yang membuat rasa keagamaan umat Hindu semakin khusuk dalam membantu menghayati hakekat makna yang terkandung dalam ajaran agama Hindu yang pada akhirnya melakukan bakti yang begitu tulus pada Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan yang Maha Esa, penguasa alam semesta, guna meraih Jagadhita (kebahagiaan material) dan Moksa (kebahagiaan rohani).

Seni budaya, kata dia, ikut berperan memperkaya tata ibadah dan ritual agama Hindu. Agama dan seni menyatu sedemikian rupa dan saling melengkapi. Dalam agama Hindu, ajaran agama berfungsi dan menuntut mencapai tujuan hidup dan kehidupan. Sedangkan seni berfungsi untuk memperhalus dan memperindah kehidupan dalam hubungan dengan manusia, dengan alam lingkungan dan hubungan dengan Tuhan.

‘’Seni tidak pernah berhenti menghasilkan kreasi dan variasi. Oleh sebab itu, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu melalui seni dan budaya perlu terus dikembangkan dan dilestarikan,’’ kata Sutresna.

Karena itu melalui festival ini, diharapkan agama dapat diimplementasikan dan dikolaborasikan dengan adat dan budaya setempat. Konsep ideal tersebut diakomodir melalui sejumlah kegiatan yang dilombakan dalam festival ini. Yaitu, lomba musik tradisional ritual keagamaan Hindu, tari tradisional ritual keagamaan Hindu, tari kreasi keagamaan Hindu, Sandyagita dan lawak keagamaan Hindu.

Sementara itu, Ketua PHDI Jatim, Nyoman Anom Mediana, menambahkan, di Jatim ada sekitar 400.000 umat Hindu yang terdiri dari empat etnis. Yakni, Hindu Madura, Hindu Gresik, Hindu Tengger dan umat Hindu pendatang dari Bali. ‘’Jatim itu multi etnis dan sangat pluralis. Itu semua bisa disampaikan lewat seni dan budaya,’’ kata Nyoman Anom Mudiana, yang didampingi Sekretaris PHDI Jatim, Gusti Ketut Budiarta, Sag., MPd.

Karena itu, menurut Anom Mediana, dalam pawai budaya nusantara seni keagamaan Hindu umat Hindu di Jatim menurunkan 18 tim kesenian Hindu. Festival Seni Keagamaan Hindu Tingkat Nasional III yang diselenggarakan Dirjen Bimas Hindu Kemenag untuk ketiga kalinya digelar di Surabaya mulai 17-21 September 2019 ini diikuti 3.000 peserta dari 21 provinsi di Indonesia. (bw/nanang)