Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Ramah dan murah senyum. Begitulah sosok pria yang akrab disapa Widodo. Dibidang ketenagakerjaan Indonesia ke luar negeri, namanya sudah familier. Hal ini lantaran dirinya sudah mengakrabi bidang ketenagakerjaan Indonesia ke luar negeri sejak 1990.
Pria kelahiran Banyuwangi, 21 April 1971 terjun dalam bidang Tenaga Kerja Indonesia/TKI sejak 1990 di Jakarta.

Dia memulai pekerjaan sebagai buruh. Sampai kini, menjabat sebagai Direktur Utama LPK BLK Indonesia Manpower. Menekuni bidang ketenagakerjaan luar negeri selama puluhan tahun, membuatnya paham betul mengenai seluk beluk ketenagakerjaan.
“Sejak ada perubahan sistem, adanya otonomi daerah, 2005, saya pulang kampung ke Banyuwangi,” kisah Widodo, kepada Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

Bahkan, sempat jenuh dibidang TKI, dirinya menjajal panggung politik. Namun, gagal.
Tahun 2012, Widodo pindah ke Malang dan bertemu dengan Subi Sudarno Ang, (kini Komisaris LPK BLK Indonesia Manpower). Meski, sempat fakum dari dunia TKI selama beberapa tahun, mulai 2012, Widodo kembali berkecimpung dibidang TKI. “Saya merasa bidang TKI ini panggilan hidup saya,” ungkapnya.

Sejak 2012, ada aturan baru. Banyuwangi ketiban sampur mengurus proses TKI di Banyuwangi. Lantas, dia bersama Subi Sudarno, membuka LPK BLK Indonesia Manpower di Banyuwangi.
Menurut dia, tantangan awal merintis BLK ini, masyarakat Banyuwangi masih belum yakin, bahwa penempatan TKI bisa diproses di Banyuwangi. Namun, seiring waktu, lewat promosi dari mulut ke mulut LPK BLK Indonesia Manpower dibawah PT Pamor Sapta Dharma ini makin dikenal masyarakat.

Bahkan terus eksis, sejak dua tahun belakangan sudah menempatkan ratusan Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri. Bagi, Widodo, pekerjaan yang dia lakoni ini bukan semata mengejar finansial semata.
“Banyak hikmahnya. Banyak pengalaman hidup yang bisa dipetik,” ucapnya.
Dia mengaku, dengan berkecimpung di dunia TKI, lebih bisa memahami hakikat kehidupan.
Para TKI ini, sebagian besar orang-orang bermasalah dan kekurangan. Dengan dekat dengan mereka bisa lebih menambah syukur dan mengasah kepekaan hati kita.
“Hikmah lain dari pekerjaan ini, saya mengaku lebih mengenal berbagai macam karakter orang dan menambah persaudaraan,” ucapnya.

Uniknya, kata dia, bekerja dibidang TKI, dirinya bertemu dengan banyak orang dengan masalah berbeda. Dirinya sadar, hidup tak ada yang diuji. Tapi beda ujiannya.
Menyikapi, atas banyaknya kasus perceraian yang rentan dialami para TKI, dia tak setuju jika penyebab perceraian akibat bekerja di luar negeri.
Untuk menekan kasus perceraian, pihaknya berupaya membangun komunikasi dua arah. Antara pihak yang bekerja di luar negeri dengan pihak keluarga yang ditinggalkan.
“Tugas kami, mendidik dan menegur,” ucap alumnus sarjana hukum Universitas Atmajaya ini.

Kepada peserta pelatihan, dirinya banyak memberikan motivasi dan pembekalan mental.
Menerjuni bidang ketenagakerjaan yang dilingkari lebih banyak wanita baginya bukanlah hal baru. Ia menyadari, profesi apapun ada risikonya. Demikian halnya bekerja dibidang TKI. “Baik buruknya, semua kembali ke diri kita,“ ujar bapak tiga orang anak ini. Dia bersyukur memiliki istri yang selalu mendukung dan paham betul dengan lingkup kerjanya.
“Rasa curiga itu harus. Itu bumbu rumah tangga. Jika tidak ada rasa curiga, jelas tidak ada rasa sayang,” selorohnya. (tin)