Kebun Tebu di Madura? Kalau Bisa : Syukur!

208

Surabaya (bisnissurabaya.com) – HARAPAN dan angan-angan tinggi Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, agar ada investor mau berinvestasi membuat perkebunan tebu di Pulau Madura, patut dihargai. “Jika investasi terhadap produksi tebu Madura antara 80 ton hingga 100 ton per hektare, maka nilai keuntungan yang diperoleh sekitar Rp 247,5 miliar lebih,” kata Baddrut Tamam, Sabtu (14/9) untuk menggambarkan besarnya keuntungan berindustri kebun tebu di pulau itu.

Areal lahan itu menurut dia, sangat luas yang mencakup seluruh daerah di Pulau Madura, meliputi kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan. Dari pemetaan yang dilakukan, areal untuk perkebunan tebu sekitar 120 hektare. Perkiraannya, produksi gula bisa mencapai 495.000 ton. Atau bisa memenuhi kebutuhan gula mencapai sekitar 24,75 persen kebutuhan gula nasional. Data pemerintah pusat, kebutuhan gula nasional mencapai 5.700.000 ton/tahun, sedangkan produksi nasional gula (2018) hanya 2.174.400 ton. Berarti, kita masih kekurangan gula sekitar 3,6 juta ton. “Jika investasi terhadap produksi tebu Madura antara 89 hingga 100 ton per hektarnya, maka nilai keuntungan yang diperoleh sekitar Rp 247,5 miliar berdasar asumsi harga gula Rp 500,- per kilogram,” katanya guna menggambarkan kesempatan dan keuntungan berinvestasi itu.

Kalaulah harapan Bupati terwujud, yakni ada yang mau berinvestasi perkebunan tebu di lahan pulau garam itu, maka perekonomian,– terutama pendapatan rakyat,– bisa meningkat. Sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda sesudah kekuasaan VOC runtuh dan kerajaan Belanda mendirikan Hindia Belanda, kemudian merubah politiknya agak liberalistis, maka sekitar tahun 1850-an dibukalah kesempatan menanam investasi untuk perkebunan tebu, kopi, teh, cacao dan karet.

Kesulitan pada waktu itu di Jawa Timur, perkebunan-perkebunan swasta milik Belanda dan sebagian kecil Inggeris, adalah mendapatkan tenaga kerja buruh perkebunan. Orang-orang Jawa di kawasan-kawasan perkebunan mereka yang membujur dari barat di kabupaten Ngawi sampaipun di bagian paling timur di Banyuwangi, rata-rata waktu itu memiliki lahan persawahan masing-masing, sehingga tak mau menjadi buruh perkebunan. Pemerintah Hindia Belanda memahami, bahwa orang-orang suku Madura adalah sebenarnya pekerja yang cukup ulet. Akan tetapi keeratan dalam kekeluargaan dan kesukuan menjadikan mereka enggan meninggalkan tanah kelahirannya di Madura.

Muncullah kemudian pakar sosiologi Prof Dr Snouk Hurgronye, yang dimintai pendapatnya untuk membawa orang-orang dari Madura menjadi kuli perkebunan. dan perusahaan-perusahaan. Pendapat pakar itu, mereka enggan berpindah karena bumi Madura waktu itu subur. Hutan berderet di bagian tengah pulau itu dari barat ke timur. Makanan utama mereka adalah jagung (pengganti nasi). Satu-satunya cara adalah membabat hutan itu menjadi gundul. Akhirnya, sumber-sumber air untuk pertanian mereka mengering. Kehidupan mulai sulit. Begitulah pada akhirnya berturut-turut orang-orang Madura mau menjadi buruh perkebunan menurut persyaratan perusahaan-perusahaan perkebunan itu. Larenanya, jumlah perkebunan miolik swasta berkembang pesat di provinsi ini.

Begitulah torehan sejarah mengenai pulau tersebut. Sebagaimana diketahui, komoditas pertanian (perkebunan) dari perusahaan-perusahaan Belanda dan Inggeris itu sejak tahun 1880-an sudah menjadi komoditas ekspor ke negara-negara Eropa, Amerika maupun beberapa negara Asia. Masa keemasan maupun krisis pasaran internasionalnya dari perkebunan-perkebunan tersebut mereka alami hingga datangnya Perang Dunia II dan pemerintahan militer Jepang menduduki Indonesia tahun 1942.

Khusus dalam perkebunan tebu yang paling luas arealnya di Jatim,. Begitu pula jumlah pabrik gula milik perusahaan besar maupun sedang yang terbanyak adalah di provinsi Jawa Timur. Meskipun kini pabrik gula maupun perkebunannya jumlahnya susut besar dibandingkan pada era sebelum Perang Dunia dan yang milik eks Belanda, dijadikan Perkebunan milik Negara (PTPN) dan terutama yang milik swasta, akibat Perang Kemerdekaan I dan II dari 1945-1949. Mulai dari dominasi perusahaan gula milik Belanda dan sebagian milik Inggeris dan Tionghoa, mulai Abad Pertengahan hingga Era Globalisasi kini, pulau Madura tidak disinggung sama sekali oleh pemerintahan Hindia Belanda maupun pemerintah kita maupun oleh para investor perkebunan untuk dijadikan perkebunan tebu. Termasuk orang-orang yang berasal dari Madura dan sudah menjadi pengusaha kaya memiliki perusahaan-perusahaan besar di Jawa Timur, belum pernah terbetik berita ingin berinvestasi untuk perkebunan tebu di Madura.

Untuk menjadikan areal perkebunan tebu, juga harus diperhatikan kondisi kesuburan tanah (sebesar apa ‘hara’ dalam tanah), bagaimana ketersediaan air irigasi, selain tentu saja status tanah dan ketersediaan tenaga kerja untuk kebun itu. Kalau perkara hasilnya meski tidak ada pabrik gula di pulau itu, bisa diangkut menyeberang lewat Jembatan Suramadu ke pabrik-pabrik gula yang ada di kabupaten-kabupaten Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan dan lain-lain.. Hanya saja, truk-truk pembawa tebu itu harus memasuki kota Surabaya dan urusannya harus diatur oleh pihak Dinas Perhubungan serta Kepolisian.

Tentu saja kalau ada niatan investor untuk membuat perkebunan tebu, tentu tidak hanya mendasarkan gambaran Bupati Pamekasan mengenai nilai-nilai keuntungan berkebun tebu di Madura, akan tetapi juga berbagai kemungkinan hambatan yang bisa terjadi. Mulai dari kondisi buminya, tenaga kerja sampaipun pasca panen tebu untuk digiling di mana. Namun bagaimanapun juga, gagasan menjadikan Madura sebagai lahan perkebunan tebu, tidak ada salahnya. Dan itu baik dan mulia. Kalau terwujud, maka dengan demikian sekaligus bisa mencegah migrasi penduduknya ke Jawa (Jatim), atau ada keluarga yang sudah ada di Jawa “toron” kembali ke Madura. (amak syariffudin)